Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Meaning of the Lamaholot Regional Language Based on the Thoughts of Ludwig Wittgenstein in the Philosophy of Language Koten, Philipus Ola; Nuka, Ewaldus; Fallo, Yohanes Risaldo; Sila, Gregorius; Bureni , Stefano Rivaldy Batista
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i3.2283

Abstract

This research aims to analyze the meaning of the Lamaholot regional language based on the perspective of Ludwig Wittgenstein's language philosophy, especially the concept of meaning in use and language games, as well as interpret the sacred phrase "Boru Tana Bojang Kebo Kili Batu" as a representation of the socio-cultural reality of the Boru people in East Flores. The research method used was a descriptive qualitative approach with literature studies, where primary data comes from Wittgenstein's works, especially Philosophical Investigations, and secondary data from various literature related to the Lamaholot language, culture, and philosophy of language. The data analysis technique was carried out interpretively by relating the use of language in the context of traditional ceremonies and social interaction of the Lamaholot community with Wittgenstein's framework of thought. The novelty of this research lies in the integration of two periods of Wittgenstein's thought to uncover layers of regional language meanings that have not previously been studied philosophically. The results of the study showed that the Lamaholot language not only functions as a means of communication, but also as a symbol that describes reality (image theory) and has a meaning determined by its use in various socio-cultural contexts (language games). The phrase "Boru Tana Bojang Kebo Kili Batu" contains philosophical values about fertility, unity, and harmony that are reflected in people's lives. This research contributes to the development of the study of language philosophy in the local context and provides recommendations for efforts to preserve regional languages as intangible cultural heritage.
Bonus Demografi dan Masa Depan Demokrasi: Refleksi Konsep Kehendak Umum Rousseau dalam Konteks Indonesia Narang, Aloysius Limbon; Hurint, Yosef Adrianus Lado; Beku, Yohanes Wilson; Kobo, Arnoldus Yansen; Metta, Oktavianus Edward; Sila, Gregorius
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2093

Abstract

Bonus demografi dan demokrasi adalah dua konsep yang saling terkait. Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia produktif, subjek-subjek politik baru juga muncul. Namun, apakah dominasi generasi produktif selama periode demografi ini dapat menjamin keberlanjutan demokrasi di Indonesia? Praktik-praktik politik uang dan politik identitas masih kuat dalam budaya politik Indonesia. Demokrasi hanya bersifat prosedural dan telah kehilangan makna substansialnya. Oleh karena itu, kehendak umum Rousseau dapat digunakan sebagai kerangka kerja untuk menganalisis masalah ini. Rousseau memberikan landasan etis bagi setiap subjek politik dalam berpolitik. Untuk menyelamatkan sistem demokrasi, tuntutan kehendak umum harus diprioritaskan. Tujuan artikel ini adalah menganalisis bonus demografis dan demokrasi dari perspektif kehendak umum Rousseau. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tinjauan literatur. Temuan dalam artikel ini adalah: (1) bonus demografis menghasilkan subjek politik baru, (2) partisipasi politik yang aktif dan sadar berperan dalam demokrasi Indonesia, (3) kehendak umum merupakan landasan etis bagi subjek politik dalam mempertahankan demokrasi. Oleh karena itu, kehendak umum Rousseau dapat dilihat sebagai landasan kokoh untuk menjawab persoalan bonus demografi bagi bonus demokrasi Indonesia di masa mendatang.