Public transportation plays an important role in supporting community mobility and creating an inclusive and sustainable urban system. This study aims to analyze the integration of the public transportation system in Tangerang City by reviewing three main aspects: organizational, operational, and physical. The problem of fragmentation of services between modes and the limitation of coordination between institutions are the main background of this study. The research uses a qualitative case study approach with data collection techniques through in-depth interviews, direct observation, and review of city transportation policy documents. The results of the study show that institutional integration between the Transportation Agency, transportation operators, and third parties such as PT TNG (Tangerang Nusantara Global) is still not optimal due to overlapping authority and lack of coordination platforms. From an operational perspective, service schedules and routes between modes have not supported each other in an integrated manner. Meanwhile, physically, integration between transportation nodes such as bus stops, terminals, and pedestrian paths is inadequate. These findings underscore the need for collaborative approaches and cross-sectoral planning to strengthen integrated public transport systems. This research makes a conceptual and practical contribution to the development of an efficient urban transportation system, especially in metropolitan areas with complex governance challenges such as Tangerang City.Transportasi publik berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta menciptakan sistem perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi sistem transportasi publik di Kota Tangerang dengan meninjau tiga aspek utama: organisasi, operasional, dan fisik. Permasalahan fragmentasi layanan antar moda serta keterbatasan koordinasi antar lembaga menjadi latar belakang utama studi ini. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen kebijakan transportasi kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kelembagaan antara Dinas Perhubungan, operator transportasi, dan pihak ketiga seperti Perseroan Terbatas Tangerang Nusantara Global (PT. TNG) masih belum optimal karena tumpang tindih kewenangan dan kurangnya platform koordinasi. Dari sisi operasional, jadwal layanan dan rute antar moda belum saling mendukung secara terpadu. Sedangkan secara fisik, integrasi antar simpul transportasi seperti halte, terminal, dan jalur pedestrian belum memadai. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan kolaboratif dan perencanaan lintas sektor untuk memperkuat sistem transportasi publik yang terintegrasi. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis terhadap pengembangan sistem transportasi perkotaan yang efisien, khususnya di wilayah metropolitan dengan tantangan tata kelola yang kompleks seperti Kota Tangerang.