Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang kompleks dengan komponen yang saling berkaitan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran salah satunya adalah kompetensi guru. Guru diharapkan menguasai setidaknya empat kompetensi yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Salah satu wujud kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengimplementasikan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Inkuiri terbimbing menjadi salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan. Berdasarkan hasil observasi awal dan beberapa penelitian terdahulu, masih belum banyak guru yang mampu memahami konsep inkuiri terbimbing, membuat perencanaan pembelajaran menggunakan model inkuiri terbimbing, serta mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri terbimbing di kelas. Solusi yang ditawarkan adalah dengan mengadakan pelatihan tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing. Metode pelaksanaan kegiatan adalah dengan pelatihan yang terbagi menjadi tiga kegiatan yaitu pemaparan materi, praktik pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing, dan penugasan mandiri. Penugasan mandiri meliputi penyusunan modul ajar dan video pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri terbimbing. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 2 sampai dengan 9 November 2024. Kegiatan diikuti oleh 132 guru Biologi SMA seJawa Tengah. Pemaparan materi dan praktik pembelajaran dilaksanakan secara luring sedangkan penugasan mandiri berupa praktik penyusunan modul ajar dengan model inkuiri terbimbing dan diskusi pengembangan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dilaksanakan secara daring asynchronous melalui Google Classroom. Hasil pretest dan postest menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kompetensi sebelum dan sesudah pelatihan. Beberapa faktor yang menjadi kendala pelaksanaan kegiatan ini antara lain: (1) beberapa guru masih kurang familiar dengan penggunaan Google Classroom sehingga masih kesulitan dalam pengiriman tugas; (2) beberapa guru masih kesulitan membedakan pembelajaran dengan inkuiri terbimbing dan discovery sehingga beberapa modul ajar yang dikembangkan menggunakan sintaks discovery learning.