Mobilitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara, namun di sisi lain menghadirkan kerentanan psikologis dan spiritual, khususnya bagi PMI yang menghadapi konflik kerja atau persoalan hukum hingga harus ditempatkan di Tempat Singgah Sementara (TSS) di bawah koordinasi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam. Perlindungan administratif dan legal yang diberikan negara belum sepenuhnya menyentuh dimensi batiniah migran, sehingga diperlukan pendampingan spiritual yang mampu memperkuat ketahanan mental. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tauhid, memperkuat spiritual resilience, serta menumbuhkan optimisme religius PMI selama berada di TSS. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif dengan desain deskriptif-kuantitatif yang didukung analisis kualitatif sederhana melalui tausiyah, diskusi reflektif, pendampingan spiritual, serta evaluasi menggunakan angket pada dua variabel, yaitu Pemahaman Materi Tausiyah (PMT) dan Dampak Kegiatan (DK). Subjek kegiatan berjumlah 11 PMI yang dipilih secara purposive. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 90,9% peserta berada pada kategori tinggi untuk variabel PMT dan 100% peserta berada pada kategori tinggi untuk variabel DK, yang mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman tauhid serta dampak positif terhadap ketenangan batin, sikap tawakal, dan motivasi beribadah. Secara analitis, peningkatan dimensi kognitif berkorelasi dengan penguatan dimensi afektif yang membentuk spiritual resilience sebagai modal internal dalam menghadapi krisis. Disimpulkan bahwa pembinaan tauhid yang dilaksanakan secara sistematis dan partisipatif efektif sebagai intervensi spiritual dalam mendukung perlindungan komprehensif PMI di luar negeri, meskipun keterbatasan jumlah peserta dan evaluasi jangka pendek menjadi pertimbangan untuk pengembangan program berkelanjutan di masa mendatang.