Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Gerakan Sosial Pemuda Di Desa Balassuka: Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Ansurlawarlin; Muh. Syukri; Ahmad Muhajir; Andi Akbar; Muhammaad Isnan Rasyidi
Jurnal Neo Societal Vol. 11 No. 1 (2026): Edisi Januari 2026
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v11i1.146

Abstract

Gerakan sosial pemuda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial terutama di wilayah pedesaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk gerakan sosial pemuda dan kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat di Desa Balassuka, Kecamatan Tombolopao. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuda berperan aktif dalam berbagai program seperti pendampingan belajar, kegiatan kebersihan lingkungan, pendampingan keagamaan, serta program sosial yang ditujukan untuk membantu warga kurang mampu. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa keterlibatan pemuda mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan, pendidikan, solidaritas sosial, dan partisipasi komunitas. Pembahasan penelitian menunjukkan bahwa temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu yang menekankan pentingnya peran pemuda dalam pembangunan sosial di tingkat lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gerakan sosial pemuda di Desa Balassuka memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap masyarakat serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui dukungan pemerintah desa dan kolaborasi lintas komunitas. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program pemberdayaan pemuda yang lebih efektif dan berkelanjutan.Kata kunci: Balassuka, gerakan sosial, kualitas hidup, masyarakat desa, pemuda
Gerakan Sosial Pemuda Di Desa Balassuka: Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Ansurlawarlin; Muh. Syukri; Ahmad Muhajir; Andi Akbar; Muhammaad Isnan Rasyidi
Jurnal Neo Societal Vol. 11 No. 1 (2026): Edisi Januari 2026
Publisher : Universitas Halu Oleo (UHO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jns.v11i1.146

Abstract

Gerakan sosial pemuda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial terutama di wilayah pedesaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk gerakan sosial pemuda dan kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat di Desa Balassuka, Kecamatan Tombolopao. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuda berperan aktif dalam berbagai program seperti pendampingan belajar, kegiatan kebersihan lingkungan, pendampingan keagamaan, serta program sosial yang ditujukan untuk membantu warga kurang mampu. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa keterlibatan pemuda mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan, pendidikan, solidaritas sosial, dan partisipasi komunitas. Pembahasan penelitian menunjukkan bahwa temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian terdahulu yang menekankan pentingnya peran pemuda dalam pembangunan sosial di tingkat lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gerakan sosial pemuda di Desa Balassuka memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap masyarakat serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui dukungan pemerintah desa dan kolaborasi lintas komunitas. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan program pemberdayaan pemuda yang lebih efektif dan berkelanjutan.Kata kunci: Balassuka, gerakan sosial, kualitas hidup, masyarakat desa, pemuda
PEMBERDAYAAN KOMUNITAS SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN KEPATUHAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA PAREPARE Muh Iqbal Latief; Andi Ahmad Hasan Tenriliweng; Atma Ras; Pratiwi Wulandari; Ahmad Muhajir; Nur Vidiah Rachmadani; Ahmad Akramullah
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36678

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Rendahnya kepatuhan masyarakat dalam membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) di Kota Parepare menjadi permasalahan serius yang menghambat optimalisasi pendapatan daerah. Hingga Oktober 2025, realisasi PKB baru mencapai Rp62,1 miliar dari target Rp73 miliar. Berbagai studi yang mengkaji tingkat kepatuhan masyarakat membayar pajak kendaraan bermotor di Kota Parepare dan hasil evaluasi semester pertama 2025 yang dilaksanakan Bapenda Kota Parepare, menyimpulkan bahwa permasalahan ini tidak hanya disebabkan faktor ekonomi dan administratif, tetapi juga faktor sosial-budaya seperti rendahnya kesadaran pajak, minimnya literasi fiskal, dan belum optimalnya pemanfaatan komunitas sebagai agen perubahan perilaku. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kepatuhan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas dengan mengintegrasikan perspektif sosiologis. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi awal melalui Focus Group Discussion (FGD), penyuluhan terpadu yang dihadiri 25 peserta dari berbagai elemen masyarakat, serta pembentukan "Komunitas Taat Pajak" yang terdiri dari Karang Taruna, komunitas ojek online, dan perwakilan wajib pajak. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipatif selama kegiatan, analisis diskusi dan testimoni peserta, serta dokumentasi komitmen kolektif yang tertuang dalam Piagam Komitmen dan MoU dengan Samsat Parepare. Hasil kegiatan menunjukkan perubahan paradigma masyarakat terhadap pajak dari beban administratif menjadi investasi sosial, terciptanya komitmen kolektif melalui penandatanganan Piagam Komitmen dan MoU dengan Samsat Parepare, serta terbentuknya jejaring sosial yang berpotensi menjadi penggerak kepatuhan berkelanjutan. Program ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis komunitas efektif membangun kesadaran fiskal dan modal sosial yang diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pajak di tingkat lokal.Kata kunci: Kepatuhan Pajak; Komunitas; Pemberdayaan Masyarakat; Pajak Kendaraan Bermotor; Kota Parepare.                                                                                                          ABSTRACTThe low compliance of the community in paying Motor Vehicle Tax (PKB) in Parepare City has become a serious problem that hinders the optimization of regional revenue. Until October 2025, PKB realization only reached Rp62.1 billion out of a target of Rp73 billion. Various studies examining the level of community compliance in paying motor vehicle tax in Parepare City and the results of the first semester 2025 evaluation conducted by Bapenda (local term for Regional Revenue Agency) Kota Parepare concluded that this problem is not only caused by economic and administrative factors, but also socio-cultural factors such as low tax awareness, minimal fiscal literacy, and suboptimal utilization of communities as agents of behavioral change. This community service program aims to increase public compliance through a community-based approach by integrating sociological perspectives. Implementation methods include initial socialization through Focus Group Discussions (FGD), integrated counseling attended by 25 participants from various community elements, and the establishment of a "Tax-Compliant Community" consisting of Karang Taruna, online motorcycle taxi communities, and taxpayer representatives. Evaluation was conducted through participatory observation during activities, analysis of participant discussions and testimonies, as well as documentation of collective commitment outlined in the Commitment Charter and MoU with Samsat Parepare. The results of the activity show a paradigm shift in the community's perception of taxes from administrative burden to social investment, the creation of collective commitment through the signing of the Commitment Charter and MoU with Samsat Parepare, as well as the formation of social networks that have the potential to become drivers of sustainable compliance. This program demonstrates that a community-based approach is effective in building fiscal awareness and social capital necessary to increase tax compliance at the local level.Keywords: Tax Compliance; Community; Community Empowerment; Motor Vehicle Tax; Parepare City.
Shifts in Community Livelihoods amid Mangrove Forest Degradation in Salemba Village, Ujung Loe District, Bulukumba Regency Ahmad Muhajir; Syamsul Bahri; Ansurlawarlin Ansurlawarlin; Muh. Sabiq
DISCOURSE: Indonesian Journal of Social Studies and Education Vol. 3 No. 3 (2026): July
Publisher : Citra Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69875/djosse.v3i3.564

Abstract

This study examines the livelihood shifts of the community in salemba village, ujung loe district, bulukumba regency, triggered by mangrove forest degradation resulting from logging carried out by the local government for river widening and dredging. The logging led to damaged pond embankments, declining fishery production, and livelihood shifts from fish farming to other sectors. This study employed a qualitative method with a case study approach. Data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation. Data analysis used Miles and Huberman's interactive model comprising data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that: mangrove logging degraded the pond ecosystem and reduced shrimp and fish production;  mangrove degradation caused social degradation marked by the weakening of mutual cooperation norms and community consensus in maintaining environmental sustainability; the economic impact of income decline pushed communities to shift to fishing, agriculture, and seaweed cultivation sectors; and the absence of reforestacion programs worsened abrasion threats to rivebank settlements.  This study uses Ulrich Beck’s Risk Society Theory and Rational Choice Theory as analytical frameworks.  
Empowerment of Street Children Through Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Makassar City Asmirah Asmirah; Ahmad Muhajir; Ansurlawarlin Ansurlawarlin
DISCOURSE: Indonesian Journal of Social Studies and Education Vol. 3 No. 3 (2026): July
Publisher : Citra Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69875/djosse.v3i3.581

Abstract

The phenomenon of street children in large Indonesian cities is commonly understood as a poverty problem identical with begging and vagrancy, although some of them have diversified their economic activities through micro, small, and medium enterprises (MSMEs). This study aims to describe the reasons street children persist in working on the street and to analyse the empowerment efforts that can be undertaken for them through MSMEs. The study applies a qualitative approach using a grounded theory strategy. The research sites are the intersections of Veteran Street, Bandang Street, and Masjid Raya Street in Makassar City. Six informants were determined through purposive sampling, namely street children who have run MSMEs for at least three years and previously worked as beggars. Data were collected through observation, in-depth interviews, focus group interviews, and documentation, and were analysed through data reduction, categorisation, and conclusion drawing. The findings reveal two main results. First, the informants remain on the street because they have been accustomed since childhood to accompanying their parents selling at intersections, perceive the street as a familiar play space, and earn income that supports family needs and school expenses, allowing them to continue schooling like their peers. Second, their activities are sustained by social capital in the form of relationships and appropriate conduct towards buyers, and cultural capital in the form of internalised community norms and trading skills, both of which are converted into economic capital. The study concludes that empowering street children should focus on strengthening these three forms of capital in an integrated manner by involving families, the social environment, and policy makers, rather than on public order enforcement alone.