Amri Saputra
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Al-Tarbiyah Bil-Qudwah dalam Kerangka Prophetic Education QS.Al-Ahzab Ayat 21: Relevansi dan Tantanganya di Era Digital M. Nuzulul Ulum; Tulus Musthofa; Amri Saputra; Rosnani Hashim
Educompassion: Jurnal Integrasi Pendidikan Islam dan Global Vol. 3 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Yayasan Cendekia Gagayunan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63142/educompassion.v3i1.461

Abstract

This study aims to analyze the integration of al-Tarbiyah bil-Qudwah within the framework of Prophetic Education based on Qur'an Surah Al-Ahzab verse 21, focusing on its relevance and challenges in the digital era. Although research on role modeling and prophetic education has progressed, studies that systematically integrate both within the context of digital transformation remain limited, leaving a conceptual gap in developing adaptive Islamic education models. This research employs a qualitative library-based approach by examining classical and contemporary literature to construct the theoretical relationship between role modeling, prophetic values humanization, liberation, and transcendence and modern educational practices. The findings indicate that role modeling remains an effective strategy for instilling moral and spiritual values; however, it requires contextual adaptation through the consistency of educators’ behavior in both physical and digital spaces, the strengthening of institutional cultures grounded in uswah hasanah, and the development of digital ethics evaluation indicators. The theoretical contribution of this study lies in formulating an integrative conceptual framework that bridges normative foundations with contemporary pedagogical needs, thereby expanding the discourse on Prophetic Education toward a more contextual and operational direction. Therefore, this study recommends empirical testing of the proposed framework as well as the development of a measurable and replicable digital qudwah implementation model across various educational levels.
Islamic Legal Reform on Child Marriage in Southeast Asian Muslim Countries: A Systematic Literature Review Amri Saputra
Usrotuna: Journal of Islamic Family Law Vol. 3 No. 01 (2026): Usrotuna: Journal of Islamic Family Law
Publisher : PT. Taskuliah Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66277/usrotuna.v3i01.54

Abstract

Child marriage remains a persistent social and legal challenge in Southeast Asian countries, particularly in Indonesia and Malaysia. Although international human rights conventions and national legal reforms have been implemented, the practice of child marriage continues to occur; in some cases, it is even encouraged through religious interpretations, customs, and cultural traditions. This study aims to analyze the dimensions, driving factors, legal framework, and direction of child marriage reform within Southeast Asian Muslim communities, whilst mapping out the research agenda that needs to be developed in the future. This study employs a Systematic Literature Review (SLR) approach guided by the PRISMA 2020 guidelines, synthesizing 34 peer-reviewed scientific articles from 82 Scopus-indexed documents. The findings identified five main thematic clusters, namely: (1) legal dimensions and Islamic doctrine; (2) state law and institutional responses; (3) social, cultural, and economic determinants; (4) feminist and community-based resistance; and (5) digital influences and contemporary dynamics. The research findings reveal an ongoing tension between Islamic jurisprudence (fiqh), customary law (adat), and international standards on children’s rights. This research concludes that there is a need for policy interventions that are sensitive to children’s rights whilst being rooted in the local cultural context, and for a reorientation of Islamic legal reasoning that prioritizes children’s welfare and protection. Directions for future research recommend the development of longitudinal studies on the individual experiences of child marriage, comparative studies, and research into the role of the digital sphere in reshaping marriage norms amongst young Muslims. [Perkawinan anak masih menjadi tantangan sosial dan hukum yang persisten di negara-negara Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Meskipun konvensi hak asasi manusia internasional dan reformasi hukum nasional telah diterapkan, praktik perkawinan usia anak masih tetap terjadi bahkan dalam beberapa kasus didorong memalui melalui interpretasi keagamaan, adat istiadat, dan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis dimensi, faktor pendorong, kerangka hukum, serta arah reformasi perkawinan anak di kalangan komunitas Muslim Asia Tenggara, sekaligus memetakan agenda penelitian yang perlu dikembangkan ke depan. Kajian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR) yang dipandu oleh pedoman PRISMA 2020, dengan mensintesis 34 artikel ilmiah peer-reviewed dari 82 dokumen terindeks Scopus. Hasil kajian mengidentifikasi lima klaster tematik utama, yaitu: (1) dimensi hukum dan doktrin Islam; (2) hukum negara dan respons kelembagaan; (3) determinan sosial, budaya, dan ekonomi; (4) resistensi feminis dan berbasis komunitas; serta (5) pengaruh digital dan dinamika kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan adanya ketegangan yang terus berlangsung antara yurisprudensi Islam (fiqh), hukum adat (adat), dan standar internasional mengenai hak-hak anak. Penelitian ini menyimpulkan perlunya intervensi kebijakan yang sensitif terhadap hak anak sekaligus berakar pada konteks budaya lokal dan reorientasi penalaran hukum Islam dengan menempatkan kesejahteraan dan perlindungan anak sebagai prioritas. Arah penelitian mendatang merekomendasikan pengembangan studi longitudinal terhadap pengalaman individu perkawinan anak, studi komparatif, serta kajian mengenai peran ruang digital dalam membentuk ulang norma perkawinan di kalangan generasi muda Muslim.]