Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Keadilan Poligami dalam Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i Studi Tafsir Maudhu'i atas Surah an-Nisa' Ayat 3 dan 129 Via Fadhilah; Muhammad Yusuf Siddik; Ahmad Farhan; Setyawan Setyawan
Social Science Academic Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/ssa.9803

Abstract

This article examines the concept of justice in polygamy in the Qur'an through a thematic study of Surah an-Nisa' verses 3 and 129. The study is motivated by the fact that justice, as the central condition for the permissibility of polygamy, is often understood narrowly or implemented inconsistently in Muslim family life. Using descriptive qualitative library research, this article analyzes Qur'anic verses, asbab al-nuzul, linguistic meanings, classical and contemporary tafsir, hadith, Islamic legal sources, and relevant scholarly literature. The findings show that Qur'anic justice in polygamy consists of external or material justice, which is obligatory and includes fair distribution of maintenance, residence, time, and treatment, and internal or affective justice, which lies beyond complete human control. Although emotional equality cannot be fully achieved, a husband must control personal inclination so that it does not result in neglect, discrimination, or psychological harm. The integration of verses 3 and 129 indicates that polygamy is not an unrestricted command, but a conditional legal concession directed toward preventing injustice and preserving family harmony.
Mediatisasi Tafsir Al-Qur'an dan Distorsi Epistemik di Era Algoritma: Analisis Kritis Fenomena 'Amalan Jalur Langit' dan Komodifikasi Agama di Tiktok Setyawan Setyawan
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 4 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i4.7701

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara otoritas keagamaan dan penyampaian ilmu Islam berlangsung di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Artikel ini membahas secara mendalam tentang fenomena bagaimana penafsiran Al-Qur'an diulas lagi melalui media sosial berbasis video pendek, seperti TikTok. Dengan mengggunakan teori Mediatisasi Agama karya Stig Hjarvard dan konsep Logika Media dari Altheide dan Snow, penelitian ini melihat bagaimana fitur teknis dan algoritma TikTok memengaruhi bentuk, isi, serta cara masyarakat menerima penjelasan terhadap Al-Qur'an. Fokus utama tertuju pada tren "amalan jalur langit", yaitu penggunaan ayat-ayat suci yang diubah menjadi produk yang bisa dibeli, seperti fitur "keranjang kuning" dan "gift". Selain itu, ada pergeseran kekuasaan dari ulama tradisional yang mengandalkan sanad ke influencer agama yang lebih dikenal karena popularitasnya di algoritme. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode netnografi dan analisis wacana kritis terhadap akun-akun populer seperti @amyaudithaa dan Ustadz Raffi Nuraga, hasilnya menunjukkan bahwa cara berpikir dalam media telah mengatur dan mengurangi peran cara berpikir berdasarkan agama. Ini menciptakan fenomena "agama yang biasa" dan kesalahan dalam cara memahami ilmu, di mana ayat-ayat Al-Qur'an dianggap sebagai alat untuk mencapai kesuksesan di dunia ("budaya bekerja keras") dan terlepas dari latar belakang sejarah dan teologinya. Artikel ini menyatakan bahwa meskipun digitalisasi memudahkan banyak orang dalam mengakses teks suci, hal ini juga membawa risiko seperti pengurangan makna suci, pemecahan pemahaman keagamaan, serta perubahan teologi menjadi barang dagangan yang penting dalam sistem digital di Indonesia.