Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik selama masa kehamilan maupun setelah kelahiran. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu kondisi yang memiliki risiko mengalami keterlambatan perkembangan seiring pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara berat lahir dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik II. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel terdiri dari 96 balita, yaitu 48 balita stunting sebagai kelompok case dan 48 balita tidak stunting sebagai kelompok control. Data dikumpulkan melalui rekam medis, buku KIA, dan KMS, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher's Exact test dan perhitungan odds ratio (OR) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 balita (4,2%) memiliki riwayat BBLR dan 92 balita (95,8%) memiliki berat lahir normal. Hasil analisis statistic menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara berat lahir dan kejadian stunting (p=0,617; p>0,05). Nilai OR sebesar 3,1 dengan 95% CI 0,2–167,9 menunjukkan adanya kecenderungan risiko stunting yang lebih tinggi pada balita dengan riwayat BBLR, tetapi hasil tersebut belum menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik karena interval kepercayaan mencakup nilai 1 dan memiliki rentang yang lebar. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara berat lahir dan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik II. Keterbatasan jumlah balita dengan riwayat BBLR perlu menjadi pertimbangan dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Kata kunci: Berat Badan Lahir Rendah; Sosial Ekonomi; Pola Asuh; Stunting