p-Index From 2021 - 2026
0.835
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Bayu Budi Laksono
Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peningkatan Kemampuan Kognitif Anggota PMR MTS Terpadu Ar-Roihan Lawang Melalui Pelatihan Rawat Luka Terbuka Metode Drill And Practice Ulil Absar Ramadhan; Bayu Budi Laksono; Riki Ristanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.505

Abstract

Latar belakang: Kemampuan kognitif remaja dalam memberikan pertolongan pertama, khususnya perawatan luka terbuka, masih tergolong rendah dan memerlukan metode pelatihan yang efektif. Metode Drill and Practice merupakan pendekatan pembelajaran berbasis latihan berulang yang dapat meningkatkan pemahaman dan ketepatan dalam tindakan klinis. Tujuan: Mengetahui pengaruh pelatihan perawatan luka terbuka dengan Metode Drill and Practice terhadap kemampuan kognitif anggota Palang Merah Remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest–Posttest, melibatkan 30 responden anggota PMR yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen berupa tes tulis 25 soal pilihan ganda. Analisis yang digunakan meliputi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample t-Test. Hasil: Nilai rata-rata pre-test 13,53 meningkat menjadi 17,00 pada post-test. Sebelum pelatihan, sebagian besar responden berada pada kategori cukup (50,0%) dan kurang (46,7%). Setelah pelatihan, kemampuan kognitif meningkat menjadi cukup (53,3%) dan baik (43,3%). Uji Paired Sample t-Test menunjukkan t = –4,089, df = 29, p < 0,001, yang berarti terdapat peningkatan signifikan setelah pelatihan. Simpulan: Pelatihan rawat luka terbuka dengan metode Drill and Practice berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan kognitif anggota PMR.
The Relationship Between Family Support And Anxiety Levels In ACS (Acute Coronary Syndrome) Patients At Lavalette Hospital Malang Yulinda Citra Noviana; Bayu Budi Laksono; Heny Nurmayunita
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.543

Abstract

Acute Coronary Syndrome (ACS) is a cardiovascular emergency condition that can have physical and psychological impacts, one of which is anxiety. High levels of anxiety in ACS patients can affect the healing process and the patient's quality of life. Family support is seen as one of the important factors that play a role in helping patients overcome anxiety during treatment. This study aims to determine the relationship between family support and anxiety levels in ACS patients at Lavalette Hospital Malang. This study uses an analytical descriptive research design with a cross sectional approach. The study sample was ACS patients treated at Lavalette Hospital Malang with a total of 39 respondents, which were taken using purposive sampling techniques. The research instruments used were family support questionnaires which included emotional, rewarding, instrumental, and informational support, as well as the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire to measure anxiety levels. The results showed that most of the respondents had family support in the high category, namely as many as 20 respondents (51%). Meanwhile, the level of anxiety of respondents showed that almost half did not experience anxiety as many as 17 respondents (44%), a small number experienced moderate anxiety as many as 8 respondents (21%), and some others experienced severe anxiety as many as 14 respondents (36%). It was found that there was a relationship between family support and anxiety levels (p=0.p. 2).Family support has an important role in lowering anxiety levels in ACS patients. Therefore, family involvement in nursing care needs to be increased as part of a holistic care approach to support optimal patient recovery.
The Relationship Between a History of Hypertension, Diabetes Mellitus, and Gout with the Incidence of Coronary Heart Disease at Lavalatte Hospital Siti Nur Ayati Ningsih; Bayu Budi Laksono; Alfunnafi' Fahrul Rizzal
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.559

Abstract

Coronary heart disease is a disorder of heart function caused by a lack of blood supply to the heart muscle due to blockage or narrowing of the coronary arteries resulting from damage to the artery walls. Damage to the lining of the coronary arteries is caused by blockages or narrowing of the coronary arteries (blood vessels in the heart that supply food and oxygen to heart cells) due to fatty deposits that accumulate on the artery walls (plaque). According to data from the Malang City Health Office, there were 730 new cases of coronary heart disease in Malang City in the 2014–2015 period. Although specific data for 2019 appears to be less publicly available, this figure provides an indication that CHD has been a significant health burden in Malang City during that period. Based on a preliminary study conducted by researchers on October 10, 2025, using interviews in the Platinum 4 room at Lavalette Hospital, which is a cardiovascular room, data was obtained on patients with CHD who had no history of hypertension, no diabetes, but had a history of gout since 2019 and had experienced two recurrences in the past year. The purpose of this study was to determine how medical history affects the risk of CHD at Lavalette Hospital. This study used a case-control design with data collected directly through structured interviews and measurements of blood pressure, uric acid, and blood sugar. The results of this study show that the majority of respondents at Lavalette Hospital have a history of disease (hypertension, diabetes mellitus, uric acid) in the high category (84.6%), with the highest prevalence in the elderly age group, while coronary heart disease (CHD) in respondents is dominated by the highrisk category (82.1%)12. The conclusion is that there is a statistically significant relationship between medical history and the incidence of CHD at Lavalette Hospital (P = 0.025), with a weak positive correlation (r_s = 0.358)13.
Meconium Aspiration Syndrome (MAS) Sebagai Faktor Resiko Respiratory Distress Syndrome (RDS) Pada Neonatus Di Ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU) Rany Wahyuli Tunaya; Juliati Koesrini; Bayu Budi Laksono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.568

Abstract

Sindrom aspirasi mekonium (Meconium Aspiration Syndrome/MAS) merupakan salah satu penyebab gangguan pernapasan neonatal yang berpotensi berkembang menjadi Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan membutuhkan perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Meskipun secara patofisiologis aspirasi mekonium diduga berperan dalam terjadinya RDS, bukti empiris mengenai hubungan keduanya masih bervariasi, khususnya pada populasi neonatal di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kejadian MAS dengan kejadian RDS pada bayi yang dirawat di ruang NICU. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian melibatkan seluruh bayi yang dirawat di ruang NICU RS Ir. Soekarno Kepulauan Morotai pada periode Oktober–November 2025, dengan jumlah sampel sebanyak 76 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis menggunakan case report form yang disusun oleh peneliti. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Contingency Coefficient. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar bayi tidak mengalami aspirasi mekonium (90,8%) dan tidak mengalami RDS (59,2%). Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian aspirasi mekonium dengan kejadian RDS (p = 0,083), dengan kekuatan korelasi lemah (r = 0,195). Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kejadian MAS dan RDS pada bayi yang dirawat di ruang NICU. Temuan ini mengindikasikan bahwa RDS pada neonatus merupakan kondisi multifaktorial dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh aspirasi mekonium.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Hipertensi Di Desa Sekarpuro Lista Kirana Putri; Ardhiles Wahyu Kurniawan; Bayu Budi Laksono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.588

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang mememrlukan pengobatan jangka panjang. Tingkat kepatuhan minum obat penderita hipertensi masih tergolong rendah dan menjadi salah satu penyebab tidak terkontrolnya tekanan darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di desa sekarpuro, kecamatan pakis, kabupaten malang. Metode penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 92 responden penderita hipertensi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dukungan keluarga dan Morisky Medication Adherence (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil analisis menunjukan nilai koefisien sebesar r = 0,214 dengan nilai p = 0,040 (P < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Disimpulkan bahwa dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Semakin baik dukungan keluarga, semakin tinggi tingkat kepatuhan minum obat.