Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Pijat Akupresur Terhadap Penurunan Lama Batuk Pasien Anak ISPA Di RS Prima Husada Malang Renata Devisa Ramadhani; Nurul Anjarwati; Erwanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i4.2176

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada anak dan ditandai dengan gejala utama berupa batuk yang dapat mengganggu kenyamanan serta proses pemulihan pasien. Penatalaksanaan nonfarmakologis seperti pijat akupresur mulai banyak digunakan sebagai terapi komplementer untuk membantu meredakan gejala batuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat akupresur terhadap penurunan lama batuk pada pasien anak dengan ISPA di RS Prima Husada Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah desain quasi eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel penelitian terdiri dari anak yang terdiagnosis ISPA dan mengalami batuk, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kelompok intervensi diberikan terapi pijat akupresur pada titik-titik tertentu selama beberapa hari, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Pengukuran dilakukan dengan mengamati lama batuk sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan lama batuk yang signifikan pada kelompok yang mendapatkan pijat akupresur dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis statistik menunjukkan bahwa pijat akupresur berpengaruh terhadap percepatan penurunan lama batuk pada pasien anak dengan ISPA. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pijat akupresur efektif sebagai terapi komplementer dalam membantu menurunkan lama batuk pada anak dengan ISPA. Diharapkan terapi ini dapat menjadi alternatif intervensi nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan oleh tenaga kesehatan maupun keluarga pasien.
Analisis Perbedaan Tekanan Darah Lansia Hipertensi Dengan Terapi Musik Dan Relaksasi Otot Progresif Rizqi Gitari Fernanda; Luluk Nur Aini; Erwanto; Eny Rahmawati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i4.2181

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan banyak terjadi pada kelompok lanjut usia (lansia), serta berisiko menimbulkan berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Kondisi ini sering disebut sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Penatalaksanaan hipertensi tidak hanya dilakukan secara farmakologis, tetapi juga dapat dikombinasikan dengan terapi non-farmakologis, seperti terapi musik dan relaksasi otot progresif yang terbukti memberikan efek relaksasi pada tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah pada lansia hipertensi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik dan relaksasi otot progresif. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest-posttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 32 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Intervensi diberikan dalam bentuk terapi musik dan relaksasi otot progresif dengan durasi tertentu sesuai prosedur penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah pada kelompok yang diberikan intervensi. Analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Selain itu, uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi musik dan relaksasi otot progresif efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Oleh karena itu, terapi ini dapat dijadikan sebagai alternatif intervensi non-farmakologis yang mudah, aman, dan dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.