Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Inversion response of seismic refraction tomography in geometrically complex karst environments Rahmatun Inayah; Syamsuddin Syamsuddin; Suhayat Minardi; Adella Ulyandana Jayatri; Ika Umratul Asni Aminy; Nazla Izyatin; Karmila Cahya Putri
Papanda Journal of Mathematics and Science Research Vol. 5 No. 1 (2026): Volume 5 Nomor 1 Maret 2026
Publisher : Papanda Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/pjmsr.v5i1.3560

Abstract

Geotechnical construction failures and sinkhole risks in critical infrastructure areas are often exacerbated by the unpredictable nature of karst subsurface structures. The identification of subsurface cavities in limestone poses significant challenges due to material heterogeneity and the complexity of wave propagation. This study aims to evaluate the response of seismic tomography inversion models to real-world conditions, particularly in detecting the influence of cavities and secondary structures on P-wave velocity ( ) characteristics. Data acquisition was conducted in the Kalipalung Formation using five seismic refraction lines with a constant inversion scheme of 20 iterations. The results demonstrate that model accuracy is highly sensitive to surface geometry, where the Root Relative Mean Square Error (RRMSE) increased drastically from 7.97% on flat topography to 39.79% on steep slopes due to wavefield scattering phenomena. Physically, the inversion model successfully identified lithological zoning with a  range of 300–3900 m/s. However, the presence of secondary structures, such as massive stalactites and calcite recrystallization, causes cavity anomalies (300–600 m/s) to appear fragmented (spotty) and discontinuous. This phenomenon confirms the presence of volume averaging and blind zone effects that mask the acoustic impedance contrast between air and the host rock. Thus, while seismic tomography is effective in mapping subsurface material heterogeneity, the internal complexity of karst systems and extreme topography remain the primary limiting factors in fully delineating cavity geometry. This evaluation highlights the necessity of topographic static corrections and high-density sensor arrays to reduce interpretation uncertainty in extreme karst zones
Penentuan Intensitas Longsor Sebagai Dasar Untuk Meningkatkan Fasilitas Kesehatan Dalam Mengurangi Risiko Bencana Longsor di Desa Lenangguar Nofrohu Retongga; Sayidatina Hayatuzzahra; Roby Mardiyan Safitra; Rita Desiasni; Welly Handa Nuraga; Adella Ulyandana Jayatri
ARembeN Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 3 No. 1 (2025): Edisi Juni
Publisher : CV. Ro Bema

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69688/aremben.v3i1.115

Abstract

Tujuan dari pengabdian adalah mengetahui Tingkat intensitas longsor di sepanjang jalan Lenangguar – Lunyuk dan mengetahui kelengkapan fasilitas kesehatan serta kesiapan Puskesmas Lenangguar dalam menangani korban akibat bencana longsor sehingga dapat meminimalisir risiko bencana Longsor. Pengabdian ini terdiri dari empat tahap, yaitu: Studi literatur digunakan sebagai acuan dasar untuk memperkuat latar belakang dalam pengabdian ini, penentuan intensitas longsor di sepanjang Jalan Lenangguar – Lunyuk, wawancara Kepala Puskesmas Lenangguar dan salah satu Dokter yang bertugas untuk mengetahui Tingkat fasilitas dan jumlah tenaga medis di Puskesmas Lenangguar, sosialisasi intensitas longsor, kesiapan dan kelengkapan puskesmas lenangguar dalam menghadapi bencana longsor kepada Kepala Desa Lenangguar untuk pemberitahuan kepada Masyarakat. Puskesmas Lenangguar hanya memiliki 2 Dokter, 12 Perawat, 1 Ambulan, Obat-obatan cukup terbatas, dan juga keterbatasan alat-alat medis sehingga hanya bisa menangani luka-luka lecet. Intensitas longsor yang cukup banyak dan sering terjadi saat musim hujan di Jalan Lintas Lenangguar – Lunyuk sehingga Puskesmas Lenangguar direkomendasikan untuk meningkatkan fasilitas sehehatan, tim medis, melakukan pelatihan manajemen bencana dan disaster plan sehingga mengurangi risiko bencana longsor dan meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.