Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, termasuk tingginya produksi sampah plastik yang mencapai 3,2 juta metrik ton per tahun dan timbulan sampah nasional sebesar 189 ribu ton per hari. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat menghasilkan 400.722,99 ton sampah per tahun, dengan Kabupaten Lombok Barat menyumbang 110.031,59 ton/tahun yang sebagian besar berasal dari rumah tangga. Desa Kebon Ayu, salah satu desa wisata di Kecamatan Gerung, menghadapi tekanan lingkungan akibat meningkatnya timbulan sampah seiring pertumbuhan pariwisata berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis timbulan dan komposisi sampah serta dampaknya terhadap estetika lingkungan desa. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan pengukuran langsung dan analisis korelasi Spearman’s Rank terhadap pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat. Hasil menunjukkan timbulan sampah rata-rata sebesar 0,166 kg/jiwa/hari dengan dominasi sampah organik (44%) dan plastik (48%). Ketimpangan antar dusun dipengaruhi oleh karakter sosial ekonomi dan pola konsumsi. Korelasi yang sangat kuat antara pengetahuan (r = 0,780), sikap (r = 0,714), dan praktik (r = 0,804) menunjukkan pentingnya edukasi lingkungan. Minimnya infrastruktur pengelolaan sampah dan fasilitas TPA turut memperparah kondisi estetika lingkungan desa. Oleh karena itu, strategi pengurangan timbulan sampah dan edukasi masyarakat menjadi hal krusial dalam menjaga kebersihan, keindahan lingkungan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan wisata desa.