Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

From Palace to Public Sphere: Historical Trajectories of the Pajoge Dance as a Bugis Performing Arts Identity (1880–1941) Shafa Nurazizah; Asep Imansyah; Marsella Yulistiani
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 02 (2026): Maret: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukim.v5i02.2667

Abstract

The background of this research stems from cultural issues in Indonesia, which still tend to be consumptive in nature, with art often viewed merely as entertainment without considering its historical value. This condition opens up space for research to examine how colonialism influenced the form, function, and public perception of Pajoge dance, particularly in Bone between 1880 and 1941. This study aims to explain the dynamics of change in Pajoge dance, which underwent significant transformation when performed outside the palace environment. This study uses the historical method proposed by Sartono Kartodirdjo, through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The analysis is reinforced by Parsons' structural functionalism to understand the role of Pajoge in building Bugis cultural identity. The results of the study show that Pajoge initially functioned as a symbol of status and legitimacy of palace power, but underwent a transformation when performed in public spaces due to political intervention and social change. The study recommends the need to recontextualize Pajoge as a cultural heritage that reflects the historical dynamics and identity of the Bugis.
Satwa Dan Media: Konflik Gajah Di Pulau Sumatera Dalam Surat Kabar Kolonial (1859-1937) Jonathan Hasudungan; Shafa Nurazizah
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 12 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v12i1.8138

Abstract

Status Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang saat ini berada pada kategori Critically Endangered menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar telah menjadi persoalan lingkungan yang serius. Berbagai penelitian telah membahas konflik gajah pada masa kontemporer, namun kajian mengenai representasi konflik tersebut dalam media kolonial masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi narasi dan menganalisis pemberitaan konflik gajah di Sumatera dalam surat kabar kolonial pada tahun 1859-1937. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama berupa surat kabar kolonial yang diperoleh dari koleksi digital Delpher dan Perpustakaan Universitas Leiden. Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif Marxis melalui konsep komodifikasi dan teori alienasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan komersial di Sumatera pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 telah mengubah lanskap hutan menjadi lahan produksi monokultur, sehingga mempersempit ruang hidup gajah dan meningkatkan intensitas konflik dengan manusia. Surat kabar kolonial umumnya merepresentasikan gajah sebagai ancaman terhadap kepentingan ekonomi karena dianggap merusak perkebunan, infrastruktur, dan aset perusahaan. Narasi tersebut turut melegitimasi tindakan perburuan sebagai upaya pengendalian gajah. Selain itu, perburuan gajah berkembang menjadi aktivitas bernilai ekonomi melalui perdagangan gading. Analisis konsep komodifikasi menunjukkan bahwa konflik gajah terjadi karena perubahan fungsi ruang hidup menjadi komoditas ekonomi, sedangkan teori alienasi memperlihatkan bahwa para pemburu juga mengalami keterasingan akibat hubungan kerja yang bersifat eksploitatif dalam sistem kapitalis. Dengan demikian, konflik Gajah Sumatera pada masa kolonial merupakan konsekuensi dari transformasi lingkungan dan ekspansi basis kapitalis melalui kolonialisme yang mengubah relasi antara manusia, satwa, dan ruang hidupnya.