Desa Beja di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, terletak pada wilayah yang menurut dokumen perencanaan daerah tergolong kelas bahaya tinggi untuk banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Desa yang sama menyimpan dua aset ekonomi yang menonjol, yaitu Bukit Avatar Watunariwowo dan perkebunan kopi arabika, namun keduanya selama ini dikelola terpisah dari informasi kebencanaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan membangun platform digital desa yang menyatukan peta risiko bencana dan kanal pelaporan warga, sekaligus menyiapkan ruang bagi promosi kopi dan wisata edukasi pada alamat yang sama. Pendekatan yang digunakan memadukan Participatory Action Research dengan model pengembangan perangkat lunak waterfall, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pembangunan sistem, pengujian, hingga pemeliharaan, dan berlangsung dari Mei sampai Agustus 2026. Masukan warga pada tahap analisis kebutuhan menjadi dasar penetapan isi dan fitur situs. Platform dikembangkan dengan LeafletJS, GeoServer, dan PostgreSQL/PostGIS pada domain avatarbeja.com, nama yang diusulkan warga dan kemudian dirumuskan sebagai akronim Analisis dan Visualisasi Ancaman, Tanggap Awal, Respons. Layer risiko bersumber dari data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ngada. Platform berhasil dioperasikan dan dapat diakses publik, 29 warga yang terdiri atas 17 laki-laki dan 12 perempuan mengikuti sosialisasi dan pelatihan, lima laporan masuk pada pekan pertama pemanfaatan, dan kegiatan memperoleh liputan media daring. Modul kopi dan wisata telah dirancang namun ditunda menunggu kesiapan badan usaha milik desa. Pembacaan peta pada skala desa juga memperlihatkan ancaman hidrometeorologi yang tergolong rendah, sedangkan ancaman gempa berada pada kelas menengah.