Joko Murdiyanto
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERBEDAAN PARAMETER HEMODINAMIK PADA PEMASANGAN LMA DAN ETT DENGAN ANESTESI UMUM DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Putri Komalasari Rumodar; Joko Murdiyanto; Endah Tri Wulandari
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i1.572

Abstract

Latar belakang: Pemasangan laryngeal mask airway (LMA) dan endotracheal tube (ETT) dalam anestesi umum dapat memicu respons simpatis yang berpengaruh pada perubahan parameter hemodinamik seperti tekanan darah dan denyut jantung. Tujuan: Mengetahui perbedaan parameter hemodinamik pasien selama pemasangan laryngeal mask airway (LMA) dan endotracheal tube (ETT) dengan anestesi umum di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini melibatkan pasien yang menjalani anestesi umum dengan pemasangan LMA dan ETT sebagai sampel. Sampel diperoleh menggunakan teknik purposive sampling, data dikumpulkan melalui lembar observasi dengan mencatat tekanan darah dan denyut jantung sebelum dan setelah pemasangan alat jalan napas. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan pada tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, dan denyut jantung antara kelompok LMA dan ETT sebelum maupun setelah pemasangan alat jalan napas (p < 0,05). Nilai signifikansi untuk tekanan darah sistolik adalah 0,033 (sebelum) dan 0,004 (sesudah), serta untuk tekanan darah diastolik sebesar 0,000 (sebelum) dan 0,000 (sesudah). Sementara itu, denyut jantung menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,008 sebelum pemasangan dan 0,000 setelah pemasangan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan parameter hemodinamik antara pemasangan LMA dan ETT pada pasien anestesi umum.
PERAN PEMERINTAH KALURAHAN PARANGTRITIS DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS KELOMPOK RENTAN DALAM PERSIAPAN MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI Muhaimin Jazali; Endah Tri Wulandari; Joko Murdiyanto
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i1.577

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, terutama gempa bumi. Kalurahan Parangtritis, yang berada di Kabupaten Bantul, DIY, merupakan salah satu wilayah rawan gempa karena lokasinya dekat dengan zona subduksi dan Samudera Hindia. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas menjadi pihak paling terdampak dalam bencana. Tujuan: Untuk mengetahui program yang dilakukan Pemerintah Kalurahan Prangtritis untuk meningkatkan kapasitas kelompok rentan dalam menghadapi gempa bumi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Populasi sampel yaitu RT, Dukuh, anggota kantor Kalurahan, dan FPRB. Peneliti menentukan informan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan. Informan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang. Hasil: Penelitian ini menghasilkan empat tema, yaitu tema I: konsep bencana, tema II: mitigasi bencana, tema III: kesiapsiagaan masyarakat, tema IV: tanggap darurat bencana, tema V: evaluasi pasca bencana. Informan dalam penelitian ini menggambarkan bencana itu ada gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor, abrasi, kekeringan, kebakaran, dan kecelakan. Kesimpulan: Pemerintah melakukan upaya sosialisasi, pelatihan, pendidikan yang diberikan pada masyarakat dan kelompok rentan, serta pada anak anak sejak dari dini. Selain itu adanya koordinasi dan evaluasi dengan beberapa instansi dan juga dengan kelompok lain pada saat mitigasi ataupun pada saat terjadi bencana gempa bumi.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KETERAMPILAN PEMASANGAN LARYNGEAL MASK AIRWAY PADA MAHASISWA DIV KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Nurafni G Pakaya; Joko Murdiyanto; Nia Handayani
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 3 No. 2 (2025): JHN: Journal of Health and Nursing, November 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v3i2.719

Abstract

Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA) merupakan kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh mahasiswa program studi keperawatan anestesiologi, karena berperan penting dalam menjaga jalan nafas pasien selama proses anestesi. Faktor  penyebab keberhasilan pemasangan LMA dalam penanganan jalan nafas yaitu pengetahuan dan keterampilan yang wajib dikuasai mahasiswa anestesiologi agar dapat mencapai posisi ideal saat pemasangan LMA, yang dapat berisiko terhadap keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan keterampilan pemasangan laryngeal mask airway pada mahasiswa DIV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 61 responden yang diambil menggunakan Teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan dan lembar observasi keterampilan pemasangan LMA. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan dari 61 responden memiliki pengetahuan baik 55,7% dan keterampilan terampil 54,1%. Uji korelasi spearman rank didapatkan hasil nilai p-value 0,000 < 0,05 dengan nilai koefisien korelasi 0,941 (sangat kuat). Ada hubungan antara pengetahuan dengan keterampilan pemasangan laryngeal mask airway pada mahasiswa DIV Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi institusi Pendidikan untuk meningkatkan pendalaman materi mengenai pemasangan laryngeal mask airway agar mahasiswa lebih siap untuk melakukan tindakan penanganan jalan nafas.
PENGARUH PEMBERIAN INFUS HANGAT TERHADAP KEJADIAN SHIVERING PADA PASIEN SPINAL ANESTESI DI RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN Sulfa Rahma Pebriani; Anita Setyowati; Joko Murdiyanto
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 3 No. 2 (2025): JHN: Journal of Health and Nursing, November 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v3i2.764

Abstract

Spinal anestesi merupakan tindakan menghilangkan sensorik motorik dengan dimasukkannya obat ke rongga subarachnoid, efek samping setelah tindakan spinal anestesi yaitu Post Anesthetic Shivering (PAS). Shivering ini dapat diatasi dengan menggunakan pemberian infus hangat untuk meminimalkan perubahan suhu normal tubuh pasien. Didapatkan yang mengalami shivering dengan tindakan anestesi spinal sebanyak 70%. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian infus hangat terhadap kejadian shivering pada pasien spinal anestesi di RS Muhammadiyah Lamongan. Metode yang digunakan pada penelitian menggunakan metode Kuantitatif dengan desain penelitian Quasy Eksperimen dengan Posttest-Only Control Group. Sampel pada penelitian ini adalah 38 responden dengan purposive sampling. Pengumpulan data yang diambil oleh peneliti dan melakukan analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil pada penelitian menunjukan bahwa pemberian infus hangat terhadap kejadian shivering  memiliki pengaruh yang dibuktikan dengan uji Mann-Whitney (Asymp-sig = 0,000). Sehingga hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian infus hangat terhadap kejadian shivering pada pasien spinal anestesi di RS Muhammadiyah Lamongan.
HUBUNGAN TINGKAT STRES AKADEMIK DENGAN KADAR HIGH-DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Destiana Rusvindiani; Joko Murdiyanto; Lisa Wahyuningrum
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/bk4wgv93

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir rentan mengalami stres akademik akibat tuntutan penyelesaian tugas akhir, praktikum, serta persiapan memasuki dunia kerja. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi proses metabolisme tubuh, termasuk metabolisme lipid dan kadar High-Density Lipoprotein (HDL). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dengan kadar HDL pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 42 mahasiswa tingkat akhir dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat stres akademik diukur menggunakan kuesioner Student-Life Stress Inventory (SLSI) yang terdiri atas 44 item, sedangkan kadar HDL diperiksa menggunakan metode Cholesterol Oxidase-Peroxidase Aminoantipyrine (CHOD-PAP) dengan alat fotometer. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres akademik kategori ringan sebanyak 29 responden (69,0%), stres sedang sebanyak 8 responden (19,0%), dan tidak stres sebanyak 5 responden (11,9%). Sebagian besar responden memiliki kadar HDL kategori low risk (≥60 mg/dL), yaitu sebanyak 27 responden (64,3%). Hasil uji Spearman Rank Correlation menunjukkan nilai p = 0,027 dengan koefisien korelasi r = -0,342. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara tingkat stres akademik dengan kadar HDL pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Semakin tinggi tingkat stres akademik, kadar HDL cenderung semakin rendah.
Association Between Nurse Anesthetists’ Caring Behaviors and Preoperative Self-Efficacy Among Surgical Patients: A Cross-Sectional Study Wafirotul Khasanah; Anita Setyowati; Joko Murdiyanto
Genius Journal of Medical Surgical Nursing Vol. 1 No. 2 (2026): Advancing Perioperative Nursing: Patient Readiness, Safety, Recovery, and Innov
Publisher : Genius Publishing (CV. Gerbang Ilmu Nusantara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66763/gjmsn.v1i2.37

Abstract

Background:  Preoperative patients often experience fear, anxiety, and reduced confidence when facing anesthesia and surgical procedures. Nurse anesthetists’ caring behaviors may help patients feel safer, more supported, and more confident during the preoperative phase.Objectives: This study aimed to examine the association between nurse anesthetists’ caring behaviors and preoperative self-efficacy among surgical patients at RSUD Sleman, Indonesia.Methods: This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. A total of 80 preoperative patients were selected using purposive sampling. Eligible participants were aged 18–55 years, had undergone pre-anesthesia assessment, were conscious and cooperative, and were scheduled for their first or second surgery. Nurse anesthetists’ caring behaviors were measured using a modified 24-item Caring Behaviors Inventory questionnaire, while preoperative self-efficacy was assessed using the Indonesian version of the General Self-Efficacy Scale. Data were analyzed using descriptive statistics and the Spearman rank correlation test, with statistical significance set at p < 0.05.Results: Most participants perceived nurse anesthetists’ caring behaviors as good (67.5%), and most had high preoperative self-efficacy (80.0%). The Spearman rank correlation test showed a significant positive association between nurse anesthetists’ caring behaviors and preoperative self-efficacy (p = 0.044; r = 0.226), indicating a weak positive correlation. Conclusions: Nurse anesthetists’ caring behaviors were significantly associated with preoperative self-efficacy among surgical patients. Strengthening caring-based communication, reassurance, and emotional support may contribute to patients’ confidence and psychological readiness before surgery.
Effectiveness of Deep Breathing Relaxation Technique in Reducing Postoperative Nausea and Vomiting Among Patients Receiving Spinal Anesthesia: A One-Group Pretest–Posttest Study Najwa Zajida Latifah; Joko Murdiyanto; Aisyah Nur Azizah
Genius Journal of Medical Surgical Nursing Vol. 1 No. 2 (2026): Advancing Perioperative Nursing: Patient Readiness, Safety, Recovery, and Innov
Publisher : Genius Publishing (CV. Gerbang Ilmu Nusantara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66763/gjmsn.v1i2.38

Abstract

Background: Postoperative nausea and vomiting (PONV) is a common complication after surgery, including among patients receiving spinal anesthesia. PONV may reduce patient comfort, delay recovery, and increase the need for additional postoperative management. Deep breathing relaxation is a simple nonpharmacological intervention that may help reduce nausea and vomiting by promoting relaxation and parasympathetic activity.Objectives: This study aimed to evaluate the effectiveness of deep breathing relaxation technique in reducing PONV among postoperative patients receiving spinal anesthesia.Methods: This study used a pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. A total of 60 postoperative patients receiving spinal anesthesia were selected using purposive sampling. PONV severity was measured before and after the intervention using the Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR). Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test.Results: Before the intervention, most respondents experienced moderate PONV (56.7%) and severe PONV (40.0%). After deep breathing relaxation, most respondents experienced mild PONV (91.7%), while 8.3% experienced moderate PONV. The Wilcoxon test showed a significant reduction in PONV severity after the intervention (Z = -6.915; p < 0.001).Conclusions: Deep breathing relaxation was effective in reducing PONV among postoperative patients receiving spinal anesthesia. This technique may be used as a safe, simple, and feasible supportive intervention in postoperative care.
Association Between Preoperative Anxiety Level and Increased Blood Pressure and Pulse Rate Among Surgical Patients: A Cross-Sectional Study Annisha Dwi Pricillia Tabara; Joko Murdiyanto; Muhaji
Genius Journal of Medical Surgical Nursing Vol. 1 No. 2 (2026): Advancing Perioperative Nursing: Patient Readiness, Safety, Recovery, and Innov
Publisher : Genius Publishing (CV. Gerbang Ilmu Nusantara)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66763/gjmsn.v1i2.39

Abstract

Background:  Preoperative anxiety is a common psychological response among surgical patients and may be accompanied by hemodynamic changes, including increased blood pressure and pulse rate. These changes may complicate preoperative preparation and affect perioperative stability.Objectives: This study aimed to examine the association between preoperative anxiety level and increased blood pressure and pulse rate among surgical patients.Methods:  A quantitative observational study with a cross-sectional design was conducted at PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital, Indonesia. A total of 55 first-time surgical patients aged 17–59 years who were scheduled for elective surgery under general anaesthesia were selected using purposive sampling. Preoperative anxiety was assessed using the Indonesian version of the Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale, while blood pressure and pulse rate were measured using a calibrated digital sphygmomanometer. Data were analysed using Spearman’s rank correlation test.Results:  Moderate anxiety was the most common category, reported by 25 participants (45.5%). Prehypertension was observed in 37 participants (67.3%), and tachycardia was identified in 36 participants (65.5%). Preoperative anxiety level was significantly and positively associated with blood pressure category (ρ = 0.654, p < 0.001) and pulse-rate category (ρ = 0.515, p < 0.001).  Conclusions: Higher preoperative anxiety levels were associated with higher blood pressure and pulse-rate categories among patients undergoing elective surgery. Routine anxiety screening alongside hemodynamic monitoring may support more comprehensive preoperative assessment and psychological preparation.