I Wayan Sutirtha
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pewarisan Tari Puspanjali Sebagai Tari Balih-balihan yang Monumental untuk Penguatan Tradisi, Budaya, dan Agama I Wayan Sutirtha; Hendra Santosa
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 10 No 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v10i2.4784

Abstract

The Puspanjali dance was created by N. L. N. Swasti Wijaya Bandem in 1989 as a welcoming dance that later developed widely within various social and cultural activities of the Balinese community. Over time, this dance has been widely learned by children through dance studios (sanggar tari), thereby playing an important role in the intergenerational transmission of Balinese dance traditions. This study aims to analyze the process of transmitting the Puspanjali dance and to explain its position as one of the monumental balih-balihan dances in Bali. The research employed a qualitative descriptive method through observations conducted in several dance studios in Bali, interviews with choreographers, composers, studio instructors, and students who study the Puspanjali dance, and was supported by a literature review on systems of traditional art transmission. The results show that the transmission process of the Puspanjali dance primarily occurs through non-formal education in dance studios and is further supported by various performance activities and dance competitions. The relatively simple movement characteristics, the repetition of movement patterns, and the relatively short performance duration make this dance easy to learn for children and beginner dancers. These conditions strengthen the regeneration of dancers while also expanding the dissemination of the Puspanjali dance across various regions of Bali. With its sustainable transmission system and its relevance to the social and cultural life of the community, the Puspanjali dance not only functions as a welcoming dance but has also developed into one of the monumental balih-balihan dance works that contributes to strengthening the continuity of tradition, culture, and the religious life of the Balinese people.
MEMBANGUN DAN MEWUJUDKAN POTENSI KESENIAN GENERASI MUDA DALAM MASYARAKAT DESA CARANGSARI MELALUI SENI TARI Ni Putu Selvy Pradnyani; I Wayan Sutirtha; Made Ayu Desiari
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6074

Abstract

AbstrakPenciptaan Tari Rejang Maparisudha Jagat berangkat dari ide tentang kesucian alam semesta yang kemudiandirefleksikan melalui gerak tubuh manusia dalam bentuk koreografi. Kata Maparisudha berasal dari Bahasa Sansekerta,yang berarti “penyucian” sedangkan “Jagat” berarti “alam semesta beserta isinya.” Dengan demikian, MaparisudhaJagat dapat dimaknai sebagai upaya penyucian terhadap alam semesta dan seluruh isinya. Tarian ini dibawakan secaraberkelompok oleh sembilan penari putri yang disusun sesuai dengan arah mata angin. Pada karya Tari RejangMaparisudha Jagat, metode penciptaan yang digunakan dalam mewujudkan karya tari, berpijak pada metode AngriptaSasolahan (menciptakan tari-tarian). Metode penciptaan tersebut di dalamnya meliputi lima tahapan penting, yaitungarencana, nuasen, makalin, nelesin, dan ngebah. Dalam penyajiannya, digunakan iringan barungan Gamelan GongKebyar karena sifat fleksibelnya mampu menghadirkan suasana religius dan tenang sesuai dengan tujuan karya.Kata Kunci: Tari Maparisudha Jagat, Alam Semesta, Religi
Api Takep Sebuah Karya Tari Yang Berangkat Dari Ritual Siat Api Di Desa Lodtunduh Ubud Gianyar I Komang Nova Teguh Mahendra; Ida Ayu Trisnawati; I Wayan Sutirtha
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 1 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v6i1.6547

Abstract

Karya tari Api Takep merupakan karya penciptaan yang terinspirasi dari ritual Siat Api di Desa Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Ritual ini mengandung nilai keberanian, kebersamaan, dan energi kolektif masyarakat yang kemudian ditafsirkan ulang ke dalam bentuk karya tari. Penciptaan Api Takep tidak bermaksud merekonstruksi ritual secara langsung, melainkan mengolah makna, simbol, dan pengalaman tubuh masyarakat ke dalam bahasa koreografi. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode Panca Sthiti Ngawi Sani yang meliputi tahap ngawirasa, ngawacak, ngarencana, ngawangun, dan ngebah. Gerak tari dikembangkan melalui eksplorasi laku masyarakat dalam Siat Api, seperti mengayun, menyapu, dan melempar sabut kelapa. Karya ini dibawakan oleh tujuh penari putra dengan penggunaan properti sabut kelapa sebagai elemen simbolik utama, serta disusun dalam empat bagian dengan durasi kurang lebih 12 menit. Melalui Api Takep, diharapkan tercipta dialog antara tradisi ritual dan penciptaan tari kontemporer, serta kontribusi terhadap pengembangan seni pertunjukan Bali berbasis nilai budaya. Kata kunci: Api Takep, Siat Api, penciptaan tari