Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Pembentukan Iman Kepada Anak Di Jemaat Gereja Bethel Injil Sepenuh Yerusalem Baru, Surabaya Berdasarkan Kitab Ulangan 6:4-9: The Role of Christian Religious Education in Shaping Children’s Faith in the Congregation of Bethel Full Gospel Church “Yerusalem Baru,” Surabaya, Based on Deuteronomy 6:4–9 Eko Basuki; Liantoro Liantoro; Dunant Frederick Saukotta; Metalia Margaret
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 5 No 1 (2024): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.5 No.1 (April 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/jrsc.v5i1.239

Abstract

Deuteronomy 6:4-9, also known as the Shema, provides a strong foundation for the formation of Christian faith. In the context of the church, Christian Education teaching can be implemented through several relevant and effective approaches. Christian Education teachers can guide children in understanding and internalizing the fundamental teachings of the oneness of God, love and obedience to Him, and the importance of keeping His commandments. This approach allows children to deeply understand the basic teachings of the Christian faith. The purpose of this study is the application of the values ​​contained in Deuteronomy 6:4-9 in everyday life, Christian Education teachers can help children understand the relevance and practical application of these teachings in the context of their lives. This can be done through stories, illustrations, and concrete examples that illustrate how these values ​​can be lived and practiced in various life situations. By actively involving parents and the church community, children can be placed in an environment that strengthens the values ​​of faith taught in Deuteronomy 6:4-9. Through the implementation of holistic PAK teaching integrated with the teachings of Deuteronomy 6:4-9, it is hoped that the younger generation in the congregation of the New Jerusalem Bethel Gospel Church, Surabaya, can grow in strong faith and be able to face spiritual challenges in their lives. Kitab Ulangan 6:4-9, yang juga dikenal sebagai Syema, memberikan dasar yang kuat bagi pembentukan iman Kristen. Dalam konteks gereja tersebut, pengajaran PAK dapat diimplementasikan melalui beberapa pendekatan yang relevan dan efektif. Guru PAK dapat membimbing anak-anak dalam memahami dan menginternalisasi ajaran fundamental tentang keesaan Allah, cinta dan ketaatan kepada-Nya, serta pentingnya memelihara perintah-Nya. Pendekatan ini memungkinkan anak-anak untuk memahami secara mendalam ajaran-ajaran dasar dalam iman Kristen. Tujuan dari penelitian ini adalah penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Kitab Ulangan 6:4-9 dalam kehidupan sehari-hari, para guru PAK dapat membantu anak-anak dalam memahami relevansi dan aplikasi praktis dari ajaran tersebut dalam konteks kehidupan mereka. Ini dapat dilakukan melalui cerita, ilustrasi, dan contoh konkret yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dihayati dan diamalkan dalam berbagai situasi kehidupan. Dengan melibatkan orang tua dan komunitas gereja secara aktif, anak-anak dapat ditempatkan dalam lingkungan yang memperkuat nilai-nilai iman yang diajarkan dalam Kitab Ulangan 6:4-9. Melalui implementasi pengajaran PAK yang holistik dan terintegrasi dengan ajaran Kitab Ulangan 6:4-9, diharapkan generasi muda dalam jemaat Gereja Bethel Injil Sepenuh Yerusalem Baru, Surabaya, dapat tumbuh dalam iman yang kokoh dan mampu menghadapi tantangan spiritual dalam kehidupan mereka.
Makna Teologis Memberi Persembahan Perpuluhan Dalam Perjanjian Lama: Theological Meaning of Giving Tithe Offerings in the Old Testament Citra Pangalinan Situmorang; Metalia Margaret; Bobby Kurnia Putrawan
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 1 No. 1 (2023): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Humanities (November 2023)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ptaki.v1i1.5

Abstract

Tithing is a practice that has long been debated among Christians, especially regarding its relevance and theological meaning in the Old Testament. Many Christians give tithes without fully understanding the biblical foundation and spiritual significance behind it. This study aims to explore the theological meaning of tithing in the Old Testament and its implications for Christian life today. The research uses a qualitative literature review method, analyzing biblical texts (Genesis, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Malachi) and relevant scholarly works on tithing. The results reveal four main theological meanings: (1) tithing as an expression of gratitude for what one possesses; (2) withholding tithes as an act of rebellion against God; (3) tithing as an acknowledgment of God’s sovereignty over all possessions; and (4) tithing as having eternal value, rooted in faith, covenant, and compassion for the poor. The study concludes that tithing is not merely a legal obligation but a spiritual discipline that reflects a believer’s relationship with God and commitment to social justice. Contribution: This study contributes a comprehensive theological framework of tithing in the Old Testament, clarifying its fourfold meaning and demonstrating that tithing is an eternal principle of gratitude, covenant loyalty, and compassion, not merely a ceremonial law.   Persembahan perpuluhan merupakan praktik yang telah lama diperdebatkan di kalangan orang Kristen, terutama mengenai relevansi dan makna teologisnya dalam Perjanjian Lama. Banyak orang Kristen memberi perpuluhan tanpa memahami sepenuhnya dasar Alkitab dan makna rohani di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna teologis persembahan perpuluhan dalam Perjanjian Lama serta implikasinya bagi kehidupan Kristen masa kini. Penelitian menggunakan metode kajian pustaka kualitatif dengan menganalisis teks-teks Alkitab (Kejadian, Imamat, Bilangan, Ulangan, Maleakhi) serta karya-karya ilmiah yang relevan tentang perpuluhan. Hasil penelitian mengungkapkan empat makna teologis utama: (1) perpuluhan sebagai ucapan syukur atas apa yang dimiliki; (2) menahan perpuluhan menyatakan perlawanan terhadap Tuhan; (3) perpuluhan sebagai pengakuan kedaulatan Tuhan atas segala milik; dan (4) perpuluhan bernilai kekal yang berakar pada iman, perjanjian, dan belas kasihan kepada orang miskin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perpuluhan bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi suatu disiplin rohani yang mencerminkan hubungan seseorang dengan Tuhan dan komitmen terhadap keadilan sosial. Kontribusi: Penelitian ini memberikan kontribusi berupa kerangka teologis yang komprehensif tentang makna perpuluhan dalam Perjanjian Lama, dengan menegaskan bahwa perpuluhan adalah prinsip abadi tentang ucapan syukur, kesetiaan perjanjian, dan belas kasihan, bukan sekadar hukum seremonial.