Marnita Sipahutar
STAI BAHRIYATUL ULUM KH. ZAINUL ARIFIN PANDAN

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MINAT SISWA MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA Rukayah Siti Masitah Hutabarat; Sri Hayati Damanik; Marnita Sipahutar; Muhammad Rifai
Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : STAI Bahriyatul Ulum Pandan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the factors that influence the interest of Class XII students in proceeding their instruction to state and private colleges in Indonesia. The population in this study were all 199 Class XII students, consisting of 96 male students and 103 female students from Class XII Science and Social Studies, while the sample in this study were 31 male students and 35 female students from Class XII Science 3 and Social Studies 3, so the total sample was 66 people. The subjects in this study were teachers and students, while The object is students' interest in continuing their studies to tertiary level. The data collection techniques used questionnaires, interviews, and documentation. The data analysis technique used product moment. The results of the research conducted at SMA Negeri 1 Kolang show that the factors that influence interest are in the high category with a percentage of 6%, students are in the medium category with a percentage of 12%, and students are in the low category with a percentage of 82%. Data taken from a sample of 66 students at SMA Negeri 1 Kolang shows that internal factors that influence students' interest are classified as moderate, and external factors that influence interest in continuing studies to university are in the high category at 22.72% (15 students), 45.45% (30 students) in the medium category, and 31.81% (21 students) in the low category. Thus, it can be seen that external factors that influence interest in continuing studies to university are only in the medium category for 30 students, and the remaining 21 students are in the low category, and there is not a single external factor that influences interest in continuing studies to university in the high category.
UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN METODE DISCOVERY LEARNINGDI SMK NEGERI 1 SIBOLGA Dewi Suryani Lase; Marnita Sipahutar; Muhammad Rifai
Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : STAI Bahriyatul Ulum Pandan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Sibolga yaitu Pertama Dengan menarik perhatian siswa, Kedua, Memberi stimulus Tahap ini siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang membingungkan, agar timbul keinginan siswa untuk menyelidiki. Ketiga, Problem Statement Pada tahap ini guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda- agenda masalah yang relevan. Keempat, Data Collection, Pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Kelima, Data Processing Pada tahap ini informasi yang telah didapat siswa baik melalui wawancara, observasi dan sebagainya kemudian ditafsirkan pada tingkatan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Keenam Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan data hasil proses. Sehingga setelah mencapai tujuan tersebut atau berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak. Ketujuh, Generalitation, Pada tahap ini siswa menarik sebuah kesimpulan yang dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, dimana sumber data utamanya adalah informasi yang diperoleh dari Guru Pendidikan Agama Islam, Guru yang mengajar di SMK Negeri 1 Sibolga, Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, serta metode triangulasi dan diketahui hasil penelitian sebagai berikut : Bahwa di SMK Negeri 1 Sibolga rendahnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang mengakibatkan setiap pembelajaran siswa tidak serius mengikutinya. Siwa tidak mampu memberikan gagasan tersendiri, siswa tidak dapat menyimpulkan suatu materi yang disampaikan, Siswa tidak berpikir secara kritis.
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAMMENANAMKAN MODERASI BERAGAMA DI SMK NEGERI 1 SIBOLGA Sakinah Mawaddah Barutu; Indri Harmaili Lubis; Marnita Sipahutar; Mhd. Syahdan Lubis
Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 01 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : STAI Bahriyatul Ulum Pandan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bermaksud menggambarkan cara guru Pendidikan Agama Islam menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama di SMK Negeri 1 Sibolga, memetakan faktor yang mendukung sekaligus menghambatnya, serta menelaah pengaruhnya terhadap sikap peserta didik. Pendekatan yang dipakai bersifat kualitatif dengan jenis studi naratif. Data dihimpun lewat observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu diolah melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sementara keabsahannya ditelaah melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Temuan memperlihatkan bahwa guru memadukan pembelajaran interaktif—diskusi, tanya jawab, studi kasus, dan role play—dengan keteladanan (uswah hasanah), pembiasaan lewat kegiatan keagamaan lintas iman, serta pendekatan personal. Di antara berbagai nilai moderasi, tawassuth (sikap tengah) dan i’tidal (adil) merupakan yang paling ditekankan. Faktor pendukung meliputi kebijakan sekolah yang menunjang, kolaborasi guru lintas agama, keterbukaan siswa, kelengkapan sarana, dan keterlibatan personal guru; sedangkan faktor penghambat mencakup beragamnya latar belakang siswa, pemahaman sebagian siswa yang masih terbatas, pengaruh media sosial, lemahnya peran orang tua, serta kendala mengoordinasikan kegiatan lintas agama.
MAQASHID SYARIAH SEBAGAI KOMPAS ETIS: REORIENTASI USHUL FIQH DALAM MENGHADAPI DISRUPSI TEKNOLOGI DAN PERUBAHAN SOSIAL ASRINA OKTAVIA SIREGAR; MARNITA Sipahutar
Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 01 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : STAI Bahriyatul Ulum Pandan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disrupsi teknologi dan percepatan perubahan sosial telah melahirkan berbagai persoalan hukum Islam kontemporer yang kompleks dan multidimensi. Persoalan seperti kecerdasan buatan, transaksi kripto, bioteknologi, hingga transformasi digital ekonomi dan sosial menuntut metodologi istinbath hukum yang tidak hanya setia pada teks, tetapi juga mampu membaca konteks zaman secara mendalam. Ushul fiqh klasik yang dibangun di atas fondasi tekstual—al-Qur'an, al-Sunnah, ijma', dan qiyas—telah memberikan kerangka hukum yang stabil selama lebih dari seribu tahun, namun pendekatan literal-formalistiknya kerap dianggap tidak cukup fleksibel dalam merespons kompleksitas dunia modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji reorientasi ushul fiqh melalui pendekatan maqashid syariah sebagai kompas etis dalam menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan sosial. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research) serta analisis tematik terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, penelitian ini menemukan bahwa: (1) rekonstruksi epistemologi ushul fiqh berbasis maqashid syariah memungkinkan kontekstualisasi, dekontekstualisasi, dan rekontekstualisasi hukum sehingga menghasilkan kemaslahatan yang lebih luas; (2) maqashid syariah—dengan tujuan pokok menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta—dapat berfungsi sebagai kerangka etis yang komprehensif untuk mengevaluasi inovasi teknologi (AI, blockchain, bioteknologi) tanpa menolak atau menerimanya secara uncritical; serta (3) reorientasi ini mendorong penguatan ijtihad kolektif yang melibatkan pakar multidisiplin serta transformasi hukum Islam menjadi sistem normatif yang solutif, bukan sekadar simbol identitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi maqashid syariah menjadi keniscayaan agar hukum Islam tetap selaras dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi, sekaligus berkontribusi pada peradaban global yang adil, beradab, dan berkelanjutan.