Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penundaan Menikah pada Generasi Z: Perspektif Hukum Keluarga Islam dan Maqasid Syariah Jasser Auda Kanza Indah Safitri; Jayusman; Linda Firdawaty; Amin Nugrah Santoso
SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2026): Juni | SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/sakalima.v3i2.509

Abstract

The postponement of marriage among Muslim Generation Z has become a prominent socio-legal phenomenon shaped by economic uncertainty, educational aspirations, career orientation, digital culture, and changing perceptions of marital readiness. This article aims to analyze the factors that encourage Muslim Generation Z to delay marriage and to examine this phenomenon from the perspective of Islamic family law and Jasser Auda’s maqasid shariah systems approach. This study employs normative juridical research using conceptual and statutory approaches. The primary legal materials consist of Indonesian marriage regulations, the Compilation of Islamic Law, and Islamic legal principles related to marriage, while secondary materials include peer-reviewed journal articles, books, statistical reports, and contemporary studies on waithood, marriage anxiety, and Muslim youth. The materials were collected through a documented library search, selected based on relevance, recency, accessibility, and legal-conceptual suitability, and then analyzed using descriptive-analytical and prescriptive legal reasoning. The findings show that the postponement of marriage among Muslim Generation Z is mainly influenced by financial instability, educational and career priorities, psychological readiness, changing gender expectations, and digital narratives about family life. From the perspective of Islamic family law, marriage delay cannot automatically be regarded as a rejection of marriage; rather, it may be understood as an effort to achieve istitha‘ah and to prepare physical, psychological, economic, and spiritual readiness for responsible family life. Through Jasser Auda’s systems approach, the phenomenon can be read contextually through the features of cognition, wholeness, openness, interrelated hierarchy, multidimensionality, and purposefulness, all of which emphasize the protection of the self, lineage, dignity, and family welfare. The study implies that Islamic family law discourse needs to respond to Generation Z’s marital concerns through adaptive premarital education, family counseling, and contextual legal interpretation while maintaining the normative objectives of marriage in Islam.
Relasi Suami-Istri Sebagai Hubungan Kontraktual: Tinjauan Teori Kontrak Atas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 Suaidah; Jayusman
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5264

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 telah mengubah secara mendasar konstruksi hukum perjanjian perkawinan di Indonesia. Perubahan ini membuka kemungkinan perjanjian perkawinan dibuat tidak hanya sebelum perkawinan, tetapi juga selama perkawinan berlangsung. Artikel ini bertujuan menganalisis relasi suami-istri pasca putusan tersebut dari perspektif teori kontrak, dengan menitikberatkan pada kebebasan berkontrak, kedudukan para pihak, perlindungan pihak ketiga, serta implikaasi keadilan substantif dalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode analisis dokumen terhadap putusan MK, peraturan perundang-undangan terkait, dan literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan MK secara signifikan memperkuat asas kebebasan berkontrak (Pasal 1338 KUHPerdata) dalam domain perkawinan, menjadikan relasi suami-istri bukan sekadar status institusional melainkan hubungan kontraktual yang dinamis. Putusan ini juga berimplikasi pada pergeseran paradigma dari model perkawinan berbasis status menuju contractualized marriage. Namun demikian, terdapat kekosongan regulasi teknis yang menimbulkan ketidakpastian hukum, khususnya terkait mekanisme publikasi, batas retroaktivitas, dan perlindungan pihak ketiga yang cenderung bersifat represif. Putusan MK No. 69/PUU-XIII/2015 memperluas otonomi kontraktual suami-istri dan memperkuat kesetaraan ekonomi dalam rumah tangga, namun menuntut harmonisasi regulasi yang lebih komprehensif untuk menjamin kepastian hukum bagi para pihak dan pihak ketiga.