Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menerima Takdir: Integrasi Konsep Qadha-Qadar Dan Defense Mechanim Dalam Kesehatan Psikologis Muslim Fatin Bakitia; Siti Nur Khasanah; Tri Anisa Febriani; Mukhamad Alfi Syaifulloh; Robingun Suyud El Syam
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6736

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam integrasi antara konsep qadha dan qadar dalam Islam dengan teori mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) dalam psikologi modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana kedua kerangka tersebut meskipun berasal dari disiplin ilmu yang berbeda dapat saling melengkapi dalam membentuk kesehatan psikologis seorang Muslim. Melalui pendekatan penelitian studi kepustakaan, kajian ini menganalisis literatur klasik Islam, tafsir Al-Qur’an, karya-karya teologi, teori psikologi dasar, serta penelitian kontemporer dalam psikologi Islam di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman yang komprehensif dan benar mengenai qadha–qadar tidak menyebabkan sikap pasif atau fatalistik. Sebaliknya, keyakinan terhadap ketetapan Allah membentuk strategi koping religius yang positif. Keyakinan tersebut memberikan kemampuan untuk menafsirkan peristiwa hidup, terutama ujian dan musibah, sebagai bagian dari rencana ilahi yang memiliki hikmah. Dengan demikian, seseorang menjadi lebih tenang, sabar, dan tabah dalam menghadapi tekanan hidup. Sikap spiritual seperti ridha, ikhlas, dan tawakkal berfungsi sebagai regulasi emosi yang efektif sehingga mampu menurunkan kecemasan dan meningkatkan ketahanan psikologis. Di sisi lain, beberapa mekanisme pertahanan diri seperti sublimasi (mengalihkan energi negatif ke aktivitas positif), penerimaan (acceptance), antisipasi (anticipation), dan rasionalisasi (rationalization) dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam apabila digunakan secara adaptif. Ketika mekanisme-mekanisme ini dibingkai dengan kesadaran spiritual, fungsinya tidak lagi bersifat defensif semata, melainkan menjadi alat untuk memperbaiki diri, menata emosi, serta menguatkan mental. Integrasi antara konsep ketuhanan dan teori psikologi ini menghasilkan sebuah model regulasi emosi berbasis spiritualitas. Model ini memberikan sumbangan teoritis yang penting bagi pengembangan psikoterapi Islam, karena mampu memadukan dimensi kognitif, emosional, perilaku, dan spiritual secara harmonis dalam upaya mengatasi gangguan psikologis.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGELOLA SUMBER BELAJAR DI PERPUSTAKAAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI SISWA DI MTS N 1 WONOSOBO Riza Sasmitasari; Siti Nur Khasanah; Nafisa Salma Afa
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 4 (2026): Agustus
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i4.2804

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tingkat literasi baca yang tergolong rendah. Perpustakaan sekolah merupakan sebuah gedung fasilitas untuk menyimpan buku yang dapat menjadi sumber belajar siswa. Namun pada kenyataannya, perpustakaan sekolah masih menjadi gedung pelengkap fasilitas sekolah tanpa memaksimalkan fungsi utamanya.Penelitian ini bertujuan 1) Menganalisis peran perpustakaan sebagai sumber belajar PAI 2) Mengetahui strategi untuk meningkatkan literasi siswa 3) Mengetahui hambatan dan solusi dalam meningkatkan literasi siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan yang berupa wawancara, yaitu dengan guru PAI MTs N 1 Wonosobo kemudian di sempurnakan dengan studi pustaka dari berbagai sumber yang akurat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perpustakaan berperan sebagai sumber belajar siswa di sekolah. Strategi untuk meningkatkan literasi siswa adalah menumbuhkan kebiasaan membaca pada siswa, memasukkan kegiatan literasi ke dalam mata pelajaran, dan memanfaatkan media sosial. Hambatan dalam meningkatkan literasi siswa adalah keterbatasan tempat, keterbatasan waktu, dan kurangnya pengawasan dari guru. Adapun solusinya adalah membaca bisa dilakukan dimana saja, memasukan literasi kedalam mata pelajaran, dan melakukan evaluasi dan penilaian terhadap siswa.