Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluation and effectiveness of the ICT subject in primary schools: Kurikulum Merdeka Aurylia Taffana
Hipkin Journal of Educational Research Vol. 3 No. 1 (2026): Hipkin Journal of Educational Research, April 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/hipkin-jer.v3i1.303

Abstract

This research was motivated by concerns that the Information and Communication Technology (ICT) subject in the Kurikulum Merdeka could become an additional burden for elementary school students at the early stages of cognitive development. This study aims to evaluate the suitability and effectiveness of ICT learning implementation in elementary schools and identify challenges and improvement strategies. The method used was a descriptive qualitative approach with a case study method through semi-structured interviews with the principals of SD IT Ibnu Sina and SD IT Bahtera Nuh. The results show that ICT learning can be effective when materials and methods are tailored to students' developmental stages. Students demonstrated high enthusiasm and experienced improved digital skills and positive learning attitudes. The main obstacles faced include limited facilities and infrastructure, as well as teacher competency. This study recommends ongoing teacher training, the development of contextual materials, and improvements to learning support facilities. These findings indicate that, with appropriate support, ICT subjects can contribute to achieving the Independent Curriculum goals and strengthen students' digital competencies from an early age.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Kurikulum Merdeka dapat menjadi beban tambahan bagi murid sekolah dasar yang masih berada pada tahap perkembangan kognitif awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian dan efektivitas implementasi pembelajaran TIK di sekolah dasar serta mengidentifikasi tantangan dan strategi perbaikannya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus melalui wawancara semi-terstruktur terhadap kepala sekolah di SD IT Ibnu Sina dan SD IT Bahtera Nuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran TIK dapat berlangsung secara efektif apabila materi dan metode disesuaikan dengan tahap perkembangan murid. Murid menunjukkan antusiasme tinggi dan mengalami peningkatan keterampilan digital serta sikap belajar positif. Kendala utama yang dihadapi meliputi keterbatasan sarana dan prasarana dan kompetensi guru. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang berkelanjutan, pengembangan materi yang kontekstual, serta peningkatan fasilitas pendukung pembelajaran. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan dukungan yang tepat, mata pelajaran TIK dapat mendukung tercapainya tujuan Kurikulum Merdeka dan memperkuat kompetensi digital murid sejak dini. Kata Kunci: kompetensi digital; Kurikulum Merdeka; pembelajaran TIK; sekolah dasar
Systematic Literature Review: Kesenjangan Implementasi Kurikulum Koding Dan AI Antara Perkotaan Dan Daerah Dewi Yanti; Salwa Khairunnisa; Aurylia Taffana; Nasywa Putri Ramadhina
Jurnal Komputer Teknologi Informasi Sistem Komputer (JUKTISI) Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : LKP KARYA PRIMA KURSUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62712/juktisi.v5i1.1149

Abstract

Perkembangan kebijakan Kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 membawa tantangan baru bagi sistem pendidikan Indonesia, khususnya terkait kesenjangan implementasi antara wilayah perkotaan dan daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan implementasi KKA pada tiga dimensi utama: ketersediaan infrastruktur teknologi, kesiapan dan kompetensi guru, serta literasi digital peserta didik. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan panduan PRISMA melalui pencarian literatur pada tiga pangkalan data utama, yaitu Google Scholar, SINTA, dan Scopus, dengan rentang publikasi tahun 2021 - 2026. Hasil kajian menunjukkan kesenjangan yang signifikan pada ketiga dimensi tersebut. Dari sisi infrastruktur, sekolah perkotaan rata-rata memiliki 30 - 150 unit komputer dengan koneksi internet stabil, sementara sekolah di daerah 3T hanya memiliki 14 - 50 unit dengan akses internet dan listrik yang belum memadai. Dari sisi kesiapan guru, sebanyak 70% guru di daerah tertinggal belum pernah mengikuti pelatihan coding dan AI. Sementara itu, literasi digital peserta didik di daerah 3T juga masih terbatas akibat minimnya paparan teknologi sejak dini. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebijakan KKA berisiko memperlebar kesenjangan digital jika tidak disertai intervensi afirmatif yang bersifat kontekstual, bertahap, dan menyeluruh pada aspek infrastruktur, pengembangan kompetensi guru, serta peningkatan literasi digital peserta didik di seluruh wilayah Indonesia. Kata Kunci: Daerah 3T, Kesenjangan Digital, Kurikulum Koding dan AI, Kesiapan Guru, Literasi Digital