Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penyuluhan Bahaya Dermatitis pada Petani Rumput Laut Dusun Ongkoa, Desa Laikang, Takalar Nurul Fajriah Istiqamah; Nur Alam Dahlan; Gani Helmy
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i2.701

Abstract

Dermatitis kontak merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami petani rumput laut akibat paparan air laut, bahan organik, serta pekerjaan basah dalam durasi lama. Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas dan kualitas hidup apabila tidak dilakukan upaya pencegahan yang memadai. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petani rumput laut tentang bahaya dermatitis dan langkah pencegahannya di Dusun Ongkoa, Desa Laikang, Kabupaten Takalar. Metode yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan melalui ceramah interaktif dan diskusi, disertai pembagian media edukasi. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test pada 25 responden. Hasil analisis uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan median skor pengetahuan dari 32 menjadi 34 dengan nilai p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah penyuluhan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyuluhan efektif meningkatkan pemahaman petani terkait faktor risiko, gejala, dan pencegahan dermatitis. Kegiatan edukatif yang berkelanjutan sangat penting sebagai strategi promotif dan preventif dalam upaya perlindungan kesehatan kerja petani rumput laut.
Penerapan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas Indonesia: Literature Review: Implementation of Occupational Safety and Health (OSH) Management in Indonesian Community Health Centers: A Literature Review Nur Alam Dahlan; Nurul Fajriah Istiqamah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 5: Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i3.10611

Abstract

atar Belakang: Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer memiliki berbagai potensi bahaya kerja, seperti paparan agen infeksius, bahan kimia, limbah medis, serta beban kerja fisik dan psikososial, sehingga memerlukan penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang komprehensif dan berkelanjutan. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa pelaksanaan program K3 di Puskesmas masih belum sepenuhnya sesuai dengan standar dan regulasi yang berlaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan manajemen K3 di Puskesmas Indonesia, mengidentifikasi pola implementasi, faktor pendukung dan penghambat, serta kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan pendekatan systematic literature review. Pencarian artikel dilakukan secara sistematis melalui database Google Scholar, PubMed, Garuda, dan portal jurnal nasional terakreditasi dengan rentang tahun publikasi 2015–2025. Kata kunci yang digunakan antara lain “penerapan manajemen K3”, “K3 Puskesmas”, “occupational safety and health management”, dan “primary health care Indonesia”. Sebanyak 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara naratif berdasarkan komponen utama manajemen K3 (kebijakan, perencanaan, implementasi, serta monitoring dan evaluasi). Hasil: Hasil review menunjukkan bahwa sebagian besar Puskesmas telah memiliki kebijakan dan struktur organisasi K3, namun implementasi program K3 masih parsial dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem manajemen mutu Puskesmas. Kesenjangan utama ditemukan pada perencanaan berbasis identifikasi bahaya dan penilaian risiko, ketidakmerataan pelatihan K3, keterbatasan sarana prasarana, rendahnya kepatuhan penggunaan APD, pengelolaan limbah yang belum konsisten, serta lemahnya dokumentasi dan pelaporan insiden. Pandemi COVID 19 sempat mendorong penguatan aspek proteksi infeksi dan penggunaan APD, namun praktik tersebut belum seluruhnya berlanjut sebagai budaya keselamatan yang mengakar. Kesimpulan: Penerapan manajemen K3 di Puskesmas Indonesia belum sepenuhnya memenuhi standar yang diharapkan dan masih dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya, pelatihan, dan budaya keselamatan. Diperlukan penguatan perencanaan K3 berbasis risiko, pemenuhan sarana prasarana, pelatihan berkelanjutan, serta pengembangan budaya keselamatan kerja untuk meningkatkan perlindungan bagi tenaga kesehatan, pasien, dan masyarakat di layanan kesehatan primer.