Peluang ekspor produk pangan halal Indonesia ke Malaysia meningkat seiring berkembangnya kanal ritel modern dan e-commerce lintas negara. Namun, pelaku usaha yang semula berorientasi food-service/cloud kitchen menghadapi hambatan struktural ketika beralih ke produk pangan dalam kemasan, terutama pada aspek standardisasi proses, ketertelusuran (traceability), dan kepatuhan informasi label. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini mendampingi PT Instan Meals Global (Kebuli Al-Khalid) untuk mengembangkan product line extension Mealz Up sebagai produk siap saji dalam kemasan satu porsi yang diproyeksikan untuk membuka potensi pasar ekspor Malaysia. Metode yang digunakan adalah pendampingan berbasis luaran (output-based mentoring) melalui empat tahap: diagnosis baseline (wawancara, observasi, audit dokumen), perancangan luaran bersama, klinik pendampingan teknis (business plan, SOP, label–kemasan), dan evaluasi menggunakan audit before–after berbasis checklist. Hasil menunjukkan peningkatan market readiness secara visual dan operasional melalui terbentuknya format produk yang lebih “retail-like” (identitas merek/varian, panel informasi, dan petunjuk penyajian). Namun, audit label juga mengidentifikasi gap hard-compliance yang masih perlu ditutup untuk kesiapan masuk kanal distribusi formal Malaysia (misalnya pernyataan berat bersih, deklarasi alergen, kode batch/lot, identitas produsen, dan barcode). Luaran utama PkM meliputi export-oriented business plan, paket SOP dan template batch record, rancangan label/kemasan serta export compliance dossier, dan rencana validasi shelf-life sebagai peta jalan pembuktian klaim produk. Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan ekspor UMKM/SME pangan lebih efektif ditingkatkan melalui pendampingan berbasis artefak dan evaluasi before–after yang dapat diaudit.