Upaya percepatan penurunan angka stunting di Desa Pakacangan saat ini masih terbentur oleh berbagai tantangan yang kompleks. Rendahnya tingkat pendidikan formal di kalangan masyarakat menjadi salah satu hambatan utama, karena berimplikasi pada terbatasnya wawasan orang tua mengenai pentingnya asupan gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan ekonomi keluarga yang menyulitkan pemenuhan nutrisi berkualitas secara konsisten. Selain faktor internal keluarga, aspek lingkungan seperti sanitasi yang kurang memadai turut memperbesar risiko infeksi pada anak, yang secara tidak langsung memperlambat efektivitas program pencegahan stunting di wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi sejauh mana partisipasi riil masyarakat dalam program penanggulangan stunting beserta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti menggali data melalui observasi lapangan, studi dokumentasi, serta wawancara mendalam terhadap 13 informan yang dipilih melalui teknik snowball sampling. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi yang lebih mengakar mengenai dinamika sosial yang terjadi di Desa Pakacangan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dalam penanganan stunting belum berjalan optimal secara menyeluruh. Meskipun inisiatif perangkat desa dalam hal sosialisasi, penciptaan peluang, dan alokasi pendanaan sudah menunjukkan progres yang positif, namun kontribusi aktif warga dalam memberikan ide, saran, maupun umpan balik masih tergolong minim. Kerja sama dan dukungan sosial di tingkat akar rumput juga masih perlu diperkuat. Walaupun kesadaran secara individu mulai tumbuh, hambatan seperti rendahnya tingkat kehadiran dalam kegiatan desa dan lemahnya jejaring dukungan sosial menjadi kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mendorong masyarakat agar lebih proaktif dan saling bahu-membahu dalam mendukung keberhasilan program ini.