Latar Belakang: Perforasi ulkus duodenum merupakan kegawatdaruratan bedah dengan mortalitas yang masih signifikan. Secara teoritis, perbedaan anatomi antara pars duodenum dapat memengaruhi luaran klinis, namun bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut masih terbatas. Tujuan: Menilai luaran klinis, khususnya mortalitas, pada pasien dengan perforasi ulkus duodenum berdasarkan lokasi segmen duodenum melalui tinjauan sistematis. Metode: Tinjauan sistematis ini disusun mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar tanpa pembatasan tahun. Studi observasional yang melaporkan luaran pasien perforasi ulkus duodenum disertakan. Data disintesis secara naratif tanpa meta-analisis. Hasil: Lima studi memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas perforasi terjadi pada pars I duodenum. Mortalitas yang dilaporkan berkisar antara 4% hingga 38,2%. Hanya satu studi yang melaporkan mortalitas berdasarkan segmen duodenum dan menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara pars I dan pars II. Faktor klinis yang paling konsisten berhubungan dengan mortalitas adalah keterlambatan presentasi, syok preoperatif, sepsis, dan kegagalan organ. Kesimpulan: Mortalitas perforasi ulkus duodenum lebih dipengaruhi oleh faktor klinis sistemik dibandingkan lokasi segmen duodenum. Diperlukan penelitian prospektif multicenter dengan pelaporan luaran berbasis segmen duodenum. Kata kunci: perforasi ulkus duodenum, pars duodenum, mortalitas, tinjauan sistematis