Kista ovarium merupakan salah satu tumor ginekologi jinak yang sering ditemukan pada wanita usia reproduksi, dengan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga nyeri pelvis, gangguan menstruasi, dan distensi abdomen. Penatalaksanaan ditentukan berdasarkan ukuran kista, gejala yang ditimbulkan, serta risiko keganasan. Seorang wanita berusia 27 tahun datang dengan keluhan nyeri haid sejak satu bulan yang disertai rasa kembung dan pembesaran perut yang progresif. Pasien belum menikah, memiliki siklus menstruasi teratur, dan tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen dan teraba massa kistik berukuran sekitar 7,5 × 5 cm disertai nyeri tekan. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya kista ovarium kiri berukuran 7,10 × 5,84 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium berada dalam batas normal. Berdasarkan temuan klinis dan penunjang, ditegakkan diagnosis kerja kista ovarium sinistra, dan pasien menjalani tindakan salpingo-ooforektomi sinistra melalui laparotomi karena ukuran kista dan risiko komplikasi. Selama operasi ditemukan massa kistik yang lebih besar, yaitu sekitar 25 × 25 cm, sebagian padat dan tanpa perlengketan, yang mengindikasikan kemungkinan underestimation pada pemeriksaan pencitraan. Perdarahan selama operasi diperkirakan ±300 cc. Penatalaksanaan pascaoperasi meliputi terapi cairan, analgesik, antibiotik, serta monitoring ketat. Kasus ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif dan penatalaksanaan bedah yang tepat waktu pada kista ovarium berukuran besar untuk mencegah komplikasi serta mempertahankan fungsi reproduksi.