Yuke Wulandari
Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Laporan Kasus: Wanita 27 Tahun Dengan Kista Ovarium Sinistra Ukuran Besar Yang Ditatalaksana Dengan Salpingo-Ooforektomi Bambang Kurniawan; Fuad Farras Gusreputra; Natasabila Natasabila; Della Ling Kim; Ricky Dharmawan; Yuke Wulandari; Wanda Fatresia; Haidar Nahda Tajallaika AP; Amalina Nur Puspitaningdiyah
Jurnal Medika Malahayati Vol 10, No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v10i1.23582

Abstract

Kista ovarium merupakan salah satu tumor ginekologi jinak yang sering ditemukan pada wanita usia reproduksi, dengan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga nyeri pelvis, gangguan menstruasi, dan distensi abdomen. Penatalaksanaan ditentukan berdasarkan ukuran kista, gejala yang ditimbulkan, serta risiko keganasan. Seorang wanita berusia 27 tahun datang dengan keluhan nyeri haid sejak satu bulan yang disertai rasa kembung dan pembesaran perut yang progresif. Pasien belum menikah, memiliki siklus menstruasi teratur, dan tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen dan teraba massa kistik berukuran sekitar 7,5 × 5 cm disertai nyeri tekan. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya kista ovarium kiri berukuran 7,10 × 5,84 cm. Hasil pemeriksaan laboratorium berada dalam batas normal. Berdasarkan temuan klinis dan penunjang, ditegakkan diagnosis kerja kista ovarium sinistra, dan pasien menjalani tindakan salpingo-ooforektomi sinistra melalui laparotomi karena ukuran kista dan risiko komplikasi. Selama operasi ditemukan massa kistik yang lebih besar, yaitu sekitar 25 × 25 cm, sebagian padat dan tanpa perlengketan, yang mengindikasikan kemungkinan underestimation pada pemeriksaan pencitraan. Perdarahan selama operasi diperkirakan ±300 cc. Penatalaksanaan pascaoperasi meliputi terapi cairan, analgesik, antibiotik, serta monitoring ketat. Kasus ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif dan penatalaksanaan bedah yang tepat waktu pada kista ovarium berukuran besar untuk mencegah komplikasi serta mempertahankan fungsi reproduksi.    
Kehamilan Ektopik Terganggu Dengan Ruptur Tuba Sinistra Pada Wanita Usia 29 Tahun: Laporan Kasus Bambang Kurniawan; Annisa Nursyafitri; Adinda Safira; Amirah Halfa Adillah; Adlian Fathurrahman; Aldy Yoza; Muhammad Yudhi Nandang Raharja; Wahid Haris Munhadi; Yuke Wulandari
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 7 (2026): Volume 13 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i7.23937

Abstract

Kehamilan ektopik merupakan kondisi ketika implantasi hasil konsepsi terjadi di luar kavum uteri. Ketika terjadi ruptur pada kehamilan ektopik, kondisi ini dikenal sebagai kehamilan ektopik terganggu. Beberapa faktor risiko dapat berkontribusi terhadap kejadian ini, antara lain riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, gangguan atau kerusakan tuba fallopi, serta riwayat infeksi salpingitis. Dilaporkan seorang wanita usia 29 tahun datang dengan keluhan nyeri di perut bagian bawah disertai hasil pemeriksaan kehamilan yang positif. Hasil laboratorium menunjukkan penurunan kadar hemoglobin dari 10,4 g/dL dan leukositosis. Pemeriksaan ultrasonografi menemukan kantung gestasi ekstrauterin pada adneksa kiri tanpa gambaran kehamilan intrauterin. Pasien kemudian dilakukan tindakan laparotomi emergensi dan salpingektomi kiri. Setelah prosedur operasi, pasien diberikan terapi berupa resusitasi cairan, transfusi PRC, analgesik, asam traneksamat, antibiotik profilaksis, serta suplemen pemulihan. Kondisi pasien berangsur membaik dan akhirnya dipulangkan dalam keadaan stabil. Kesimpulan: Identifikasi dini serta pemberian tindakan pembedahan segera pada kasus kehamilan ektopik terganggu sangat berperan dalam menekan angka morbiditas dan mortalitas. Kombinasi data anamnesis, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonografi merupakan pendekatan utama dalam penegakan diagnosis. Kasus ini dilaporkan karena pentingnya identifikasi dini terhadap pasien dengan gejala yang tidak khas sehingga dapat mencegah mortalitas.