Wati Istanti
Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dangdut vs K-Pop in BIPA Learning in South Korea Wati Istanti; Nike Widya Kusumastuti; Agus Sulaeman; Akhmad Fauzan
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 11 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v11i1.36107

Abstract

Dangdut is one of Indonesia’s popular traditional music genres, rooted in Arabic, Malay, and Hindustani musical influences since the 1940s. Indonesia and South Korea share similarities in utilizing music for cultural promotion. Indonesia introduces its culture through dangdut music, while South Korea promotes its cultural identity through K-pop. K-pop is widely recognized among Indonesian youth, whereas dangdut remains relatively unknown in South Korea. Meanwhile, teaching Indonesian as a second language has developed significantly in South Korea, notably at Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Introducing dangdut music in BIPA (Bahasa Indonesia for Foreign Speakers) instruction offers a strategic potential that can be compared to K-pop as an instructional medium. This study aims to (1) explore the characteristics of dangdut and K-Pop suitable as learning materials for BIPA in South Korea; and (2) describe the implementation of cultural diplomacy through dangdut music in the BIPA program. This research employed a qualitative descriptive method with a case study design. Primary data were obtained through observations, questionnaires, and interviews involving students, instructors, and program coordinators of BIPA at HUFS. Secondary data were collected from program documents and relevant literature. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis model. The findings indicate that: (1) the communicative and contextual nature of dangdut is suitable for BIPA instructional materials, and K-Pop’s popularity is leveraged to attract learner interest; and (2) the use of dangdut music in BIPA instruction serves as a form of cultural diplomacy that strengthens intercultural relations. This study contributes to facilitating South Korean learners in acquiring the Indonesian language and ultimately enhancing the achievement of cultural diplomacy between the two countries.
EFEKTIVITAS INTEGRASI MEDIA YOUTUBE DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA SMP: THE EFFECTIVENESS OF YOUTUBE MEDIA INTEGRATION IN IMPROVING JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS' POETRY WRITING SKILLS Hasan Arafat; Wati Istanti; Haryadi Haryadi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 15 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v15i4.106903

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas integrasi media YouTube dalam meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa SMP. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential, yaitu pengumpulan data kuantitatif yang dilanjutkan dengan data kualitatif untuk menjelaskan hasil penelitian secara lebih mendalam. Data kuantitatif diperoleh melalui tes menulis puisi sebelum dan sesudah perlakuan, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan menulis puisi siswa setelah penerapan media YouTube. Nilai rata-rata pretest sebesar 61,48 meningkat menjadi 82,37 pada posttest, dengan hasil uji paired sample t-test menunjukkan nilai t = 14,62 dan signifikansi p< 0,05. Nilai N-Gain sebesar 0,64 menunjukkan kategori peningkatan sedang–tinggi. Temuan kualitatif mengungkap bahwa penggunaan YouTube membantu siswa mengembangkan imajinasi, memperkaya diksi, serta memahami ekspresi dan suasana puisi secara lebih konkret. Integrasi media YouTube terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis puisi serta menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa.