Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eksaminasi Peran Media Lokal dalam Komunikasi Politik Pilkada Serentak 2024: Studi Kasus di Kota Bima Abdul Kadir; Ahmad Usman; Sadrul Imam
Jurnal Ilmu Administrasi Negara Vol. 21 No. 2 (2024): Desember: Jurnal Ilmu Administrasi Negara
Publisher : Universitas Mbojo Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59050/jian.v21i2.262

Abstract

Abstrak penelitian ini mengkaji peran media lokal dalam komunikasi politik selama Pilkada Serentak 2024 di Kota Bima, dengan fokus pada aksesibilitas informasi yang mempengaruhi tingkat elektabilitas pasangan calon. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi media lokal, termasuk keberpihakan politik yang mengurangi objektivitas pemberitaan, serta bagaimana fenomena perubahan dukungan partai politik memengaruhi persepsi masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi cara media lokal menyajikan informasi politik dan dampaknya terhadap partisipasi masyarakat, serta untuk menyoroti adaptasi media lokal dalam era digital melalui penggunaan media sosial oleh politisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media lokal berperan penting dalam meningkatkan edukasi politik dan partisipasi masyarakat, meskipun masih terdapat tantangan terkait independensi dan netralitas. Media lokal berhasil menyampaikan informasi relevan tentang kandidat dan program-program yang ditawarkan, tetapi keberpihakan terhadap kandidat tertentu dapat mempengaruhi persepsi publik dan kualitas demokrasi. Selain itu, variasi format pemberitaan seperti wawancara dan analisis opini berkontribusi pada pemahaman masyarakat mengenai proses politik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun media lokal memiliki potensi besar sebagai jembatan antara pemimpin politik dan masyarakat, penting untuk meningkatkan profesionalisme dan komitmen terhadap prinsip jurnalisme yang berimbang agar dapat mendukung proses demokrasi yang lebih transparan dan akuntabel.
Resiliensi Sosio-Teknologis dalam Tata Kelola Kesehatan Digital: Analisis Kritis Mitigasi Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat Kamaluddin Kamaluddin; Renni Sartika; Sadrul Imam
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 6 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i6.976

Abstract

Berangkat dari tingginya kompleksitas dan persistensi masalah stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat, penelitian ini menegaskan urgensi analisis kritis terhadap tata kelola kesehatan digital yang selama ini cenderung dipahami secara teknokratis dan administratif. Digitalisasi kesehatan diposisikan bukan sekadar sebagai instrumen pencatatan data, melainkan sebagai arena relasi kuasa, produksi pengetahuan, dan pembentukan resiliensi sosio-teknologis dalam mitigasi stunting. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana resiliensi tersebut dibangun, dinegosiasikan, dan dibatasi oleh fragmentasi kebijakan, interoperabilitas data yang lemah, serta ketimpangan kapasitas aktor di tingkat lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan desain studi kasus kritis, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumen kebijakan serta sistem digital kesehatan seperti e-PPGBM, SIGIZI, dan dashboard stunting di NTB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun infrastruktur digital kesehatan berkembang pesat, lemahnya interoperabilitas semantik dan koordinasi lintas sektor menyebabkan data terfragmentasi dan gagal berfungsi sebagai basis kebijakan berbasis bukti. Resiliensi digital yang terbentuk bersifat rapuh karena bergantung pada improvisasi tenaga kesehatan dan kader posyandu, sekaligus memproduksi eksklusi digital terhadap kelompok rentan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tanpa pergeseran menuju resiliensi transformatif melalui harmonisasi kebijakan, federasi data yang adil, dan penguatan peran aktor lokal, digitalisasi kesehatan berisiko menjadi simbol modernisasi semu tanpa dampak signifikan dalam memutus siklus stunting lintas generasi.