Dwi Oktaviani
Universitas Islam Indonesia, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALYSIS OF THE MARRIAGE IS SCARY PHENOMENON AMONG GENERATION Z: A PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW SOCIOLOGY Krismono; Dwi Oktaviani
Sahaja: Journal Sharia and Humanities Vol. 4 No. 1 (2025): Sahaja: Journal Sharia and Humanities
Publisher : Universitas Darunnajah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61159/sahaja.v4i1.403

Abstract

Fenomena Marriage is Scary di kalangan Generasi Z semakin marak dan mencerminkan perubahan persepsi serta sikap terhadap pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komentar di media sosial, khususnya TikTok, mencerminkan persepsi Generasi Z terhadap pernikahan dalam konteks fenomena ini. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, sebanyak 63 komentar dikumpulkan dari unggahan TikTok yang membahas tren Marriage is Scary antara November 2024 hingga Januari 2025. Hasil analisis mengidentifikasi lima tema utama: ketakutan terhadap pasangan, ketidakpastian masa depan, konflik dalam rumah tangga, ketakutan finansial, dan pengaruh media sosial. Ketakutan terhadap pasangan menjadi kategori paling dominan, dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan eksposur terhadap narasi negatif mengenai kekerasan dalam rumah tangga serta kegagalan pernikahan. Faktor ekonomi dan ketidakstabilan finansial juga berkontribusi terhadap keputusan Generasi Z untuk menunda pernikahan, sementara ekspektasi sosial dan konflik rumah tangga semakin memperkuat skeptisisme terhadap institusi pernikahan. Dari perspektif sosiologi hukum Islam, fenomena ini mencerminkan tantangan dalam mengharmonisasikan norma hukum Islam dengan realitas sosial yang terus berubah. Hukum Islam menekankan keseimbangan dalam hubungan suami-istri, namun dalam praktiknya masih dipengaruhi oleh ekspektasi budaya patriarki yang menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi perempuan. Studi ini menyoroti perlunya edukasi pranikah yang lebih inklusif, tidak hanya berfokus pada aspek normatif tetapi juga mempertimbangkan realitas sosial dan psikologis generasi muda. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi pengaruh pendidikan agama, kebijakan negara, dan peran keluarga dalam membentuk persepsi pernikahan, serta mengembangkan strategi hukum Islam yang lebih adaptif terhadap perubahan sosial.
ANALYSIS OF THE MARRIAGE IS SCARY PHENOMENON AMONG GENERATION Z: A PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW SOCIOLOGY Krismono; Dwi Oktaviani
Sahaja: Journal Sharia and Humanities Vol. 4 No. 1 (2025): Sahaja: Journal Sharia and Humanities
Publisher : Universitas Darunnajah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61159/sahaja.v4i1.403

Abstract

The phenomenon of "Marriage is Scary" among Generation Z is increasingly prevalent and reflects changing perceptions and attitudes towards marriage. This study aims to analyze how comments on social media, particularly TikTok, reflect Generation Z's perceptions of marriage within the context of this phenomenon. Utilizing a qualitative approach with a descriptive-analytical method, 63 comments were collected from TikTok posts discussing the "Marriage is Scary" trend between November 2024 and January 2025. The analysis identified five main themes: Fear of partners, uncertainty about the future, domestic conflicts, financial concerns, and social media influence. Fear of partners emerged as the most dominant category, influenced by personal experience and exposure to negative narratives regarding domestic violence and marital failure. Economic factors and financial instability also contribute to Generation Z's decision to delay marriage, while social expectations and domestic conflicts further reinforce skepticism towards the institution of marriage. From the perspective of Islamic legal sociology, this phenomenon reflects the challenges in harmonizing Islamic legal norms with evolving social realities. Islamic law emphasizes balance in spousal relationships. However, in practice, it remains influenced by patriarchal cultural expectations that raise concerns, particularly for women. This study highlights the need for more inclusive premarital education, focusing not only on normative aspects, but also on the social and psychological realities of young people. Further research could explore the influence of religious education, state policies, and family roles in shaping perceptions of marriage as well as developing Islamic legal strategies that are more adaptive to social changes.