Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Peran Modal Sosial pada Pengemudi Ojek Online : Penelitian Cendana Jihan Noegroho; Fini Nur Latifah; Mohamad Izmal Amsorudin; Sri Damayanti
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.307

Abstract

Perkembangan zaman di era yang serba modern ini telah banyak mengubah hubungan interaksi sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini sejalan dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang serba digital telah mengubah pola relasi sosial dan aktivitas ekonomi dalam sektor transportasi, khususnya pada penyedia jasa ojek online. Terdapat perbedaan dengan ojek pangkalan yang mengandalkan interaksi secara langsung dan modal sosial yang kuat, sedangkan ojek online beroperasi dalam sistem algoritma digital pada aplikasi yang cenderung bersifat transaksional dan individualistik. Penelitian ini bertujuan menganalisis eksistensi dan signifikansi modal sosial di kalangan pengemudi ojek online serta bagaimana fakta di lapangan dengan menggunakan perspektif modal sosial Pierre Bourdieu. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam terhadap 9 informan yang dipilih secara purposive. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa modal sosial pada pengemudi ojek online tidak hilang, melainkan mengalami transformasi dari interaksi langsung menjadi interaksi yang menggunakan teknologi digital. Temuan lapangan mengungkapkan bahwa perolehan pelanggan kini didominasi oleh mekanisme algoritma yang bersifat acak, sehingga interaksi yang terjalin umumnya singkat dan tidak berkelanjutan. Peranan modal sosial pada penyedia jasa ojek online tidak lagi menjadi fondasi utama sebagai penentu pendapatan ekonomi pengemudi. Telah terjadi pergeseran peran modal sosial dalam ekonomi di era digital ini dimana kepemilikan jaringan sosial tidak lagi secara langsung menentukan akses terhadap sumber daya ekonomi karena mulai digantikan oleh struktur digital.
Perubahan Pola Konsumsi Mahasiswa Akibat Penggunaan Paylater Dalam Perspektif Sosiologi Ekonomi Yashinta Fadhilah; Tia Lestiya Suwandi; Siti Mujamilah; Sri Damayanti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5533

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pola konsumsi mahasiswa akibat penggunaan layanan paylater dalam perspektif sosiologi ekonomi. Metode yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Kerangka teoritis yang digunakan mencakup konsep embeddedness Karl Polanyi, teori masyarakat konsumsi Jean Baudrillard, serta konsep habitus dan kapital simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paylater tidak hanya mengubah cara mahasiswa bertransaksi, tetapi juga mengonstruksi ulang makna konsumsi sebagai arena pembentukan identitas sosial dan reproduksi hierarki dalam komunitas kampus. Normalisasi utang digital yang didorong oleh tekanan sebaya dan budaya media sosial mereproduksi habitus konsumtif yang berpotensi berdampak negatif pada kesehatan finansial jangka panjang mahasiswa. Penelitian ini merekomendasikan intervensi holistik melalui penguatan literasi keuangan, regulasi platform BNPL, dan pendidikan kesadaran kritis di lingkungan perguruan tinggi.
Pemanfaatan PayLater dalam Memenuhi Kebutuhan Mendesak: Antara Solusi dan Ketergantungan Wafa Nurawwalin; Nifa Azzahra; Salma Aditya; Sri Damayanti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5562

Abstract

Perkembangan teknologi finansial telah menghadirkan berbagai inovasi dalam layanan keuangan digital, salah satunya adalah fitur paylater yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian terlebih dahulu dan membayarnya di kemudian hari. Kemudahan akses, proses yang cepat, serta fleksibilitas pembayaran membuat layanan ini semakin populer di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan paylater dalam memenuhi kebutuhan mendesak, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong penggunaannya, serta mengkaji dampak sosial dan ekonomi terhadap perilaku konsumsi dan kondisi keuangan individu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap pengguna paylater serta studi dokumentasi dari berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paylater dimanfaatkan sebagai solusi finansial jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan mendesak ketika individu mengalami keterbatasan dana. Kemudahan akses dan fleksibilitas pembayaran menjadi faktor utama yang mendorong penggunaannya di masyarakat. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi mendorong perilaku konsumtif, meningkatkan risiko penumpukan utang, serta memunculkan tekanan finansial pada pengguna. Selain itu, rendahnya literasi keuangan juga memperbesar kemungkinan terjadinya ketergantungan terhadap layanan kredit digital. Oleh karena itu, pemanfaatan paylater perlu diimbangi dengan kesadaran dan literasi keuangan yang baik agar dapat memberikan manfaat tanpa menimbulkan permasalahan finansial di masa mendatang.
Pengaruh Toxic Masculinity terhadap Pola Komunikasi Ayah dan Anak Nifa Azzahra; Cendana Jihan Noegroho; Ina Elina; Sri Damayanti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5565

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh txic masculinity terhapad pola komunikasi antara ayah dan anak dalam keluarga. Fenomena toxic masculinity dipahami sebagai kontruksi sosial dalam budaya patriarki yang membentuk laki-laki untuk bersikap dominan, emosional, dan menghindari ekspresi perasaan. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada sebagian anak sebagai informan utama dan orang tua sebagai informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa toxic masculinity membentuk pola komunikasi yang kaku, hierarkis, dan cenderung satu arah antara anak dan ayah. Ayah lebih banyak berperan sebagai figur otoritatif dibandingkan sebagai sosok yang memberikan dukungan emosional. Kondisi ini menimbulkan jarak psikologis, rendahnya kedekatan emosional, serta keterbatasan komunikasi dalam keluarga. Dampak yang muncul meliputi ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga, rendahnya rasa percaya diri anak, kesulitan dalam interaksi sosial, hingga potensi perilaku menyimpang. Penelitian ini menegaskan bahwa kontruksi maskulinitas yang tidak sehat dapat menghambat kualitas relasi keluarga, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih kritis terhadap peran ayah dalam membangun komunikasi yang terbuka dan suportif.
KELEKATAN SOSIAL DAN PENGHINDARAN KONFLIK: STUDI PEMILIHAN WARUNG DI KAMPUNG CISAAT Gita Umul Faizal; Hikma Nadya Rahmah; Ina Elina; Sri Damayanti
Dinamika: Jurnal Manajemen Sosial Ekonomi Vol. 6 No. 1 (2026): DINAMIKA : Jurnal Manajemen Sosial Ekonomi
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi - Studi Ekonomi Modern

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/dinamika.v6i1.1164

Abstract

This study aims to examine the influence of social relationships and conflict avoidance strategies on community consumption practices within a local community. The study employs a qualitative approach using a case study method in Kampung Cisaat, utilizing in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The results indicate that community economic decisions are not entirely based on rational considerations such as price and distance, but are influenced by social factors such as closeness to the seller, neighborhood norms, and the desire to maintain social harmony. The phenomenon of choosing more expensive shops reflects the presence of social embeddedness in economic activities, where economic actions are embedded within existing social relationships. Informal social pressure and solidarity among residents are the primary factors driving the community to continue shopping at specific shops as a strategy to avoid conflict. Thus, the community’s consumption practices demonstrate that economic activities are social in nature and cannot be separated from the context of the social relationships that surround them.
The Role of Quality Time in Building Family Harmony: A Qualitative Study of Parent-Child Relationships Rani Rahmawati; Nisrina Salsabila; Siti Nurul Azizah; Sri Damayanti
Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 24 No. 2 (2026): Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu sosial
Publisher : Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Administrasi Negara Indonesia (PIANI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63309/dialektika.v24i2.1064

Abstract

Abstract Social changes and increasing work demands in modern families have led to a decrease in the intensity of interaction between parents and children, making quality time an important strategy for maintaining family harmony. This study aims to analyze the perspectives of parents and children regarding family harmony, the forms and roles of quality time in maintaining family relationships, as well as the challenges and efforts families make in dealing with disharmony. The method used is a qualitative approach with a phenomenological design. Data collection was conducted through in-depth interviews with three informants consisting of a father, a mother, and a child. Data analysis was performed using the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results indicate that family harmony is understood as a relationship filled with love, good communication, mutual respect, and emotional closeness among family members. The forms of quality time practiced by the family include eating together, going for walks, having casual conversations, and sharing stories about daily activities. Quality time plays a crucial role in strengthening emotional bonds, fostering more open interpersonal communication, and maintaining harmonious relationships between parents and children. However, this study also identified obstacles such as work demands, gadget use, and communication barriers that affect family interactions. Therefore, efforts are needed to raise families’ awareness of the importance of open communication, balanced time management, and reducing excessive gadget use so that harmony and emotional closeness within the family can be maintained. Keyword: Family Communication, Family Harmony, Parent-Child Relationships, Quality Time, Structural Functionalism.
Public Consumer Behavior in Online Shopping Trends in the Digital Era Hanisa Syava Farhata Indilah; Nisa; Sri Damayanti
Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 22 No. 1 (2024): Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Administrasi Negara Indonesia (PIANI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63309/dialektika.v22i1.1067

Abstract

This study aims to analyze consumerist behavior in online shopping trends in the digital era, focusing on urban communities in Kota Bandung. The research employs a qualitative approach using in-depth interviews, observation, and documentation techniques involving active e-commerce users. Data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that consumer behavior is no longer driven by rational needs but by symbolic value (sign value) associated with identity and lifestyle. Specifically, the study finds that (1) purchasing decisions are largely driven by digital promotions that create a sense of artificial urgency, (2) social media plays a significant role in constructing artificial needs through mechanisms of simulation and hyperreality, and (3) the use of paylater services contributes to a shift in the meaning of debt from a financial burden to a normalized digital lifestyle practice. These conditions lead to increased individual spending and a transformation of social values, where consumption functions as a means of identity expression and social recognition. From the perspective of Jean Baudrillard, this phenomenon reflects a consumer society dominated by symbols, images, and simulation within the context of digital urban life.