Wati Karmila
Institut Muhamadiyah darul Arqom Garut

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Improving Graduate Quality through Networked Curriculum Integration in Madrasahs Using the ABCD Method Yusuf Yusuf; Wati Karmila; Ade Aspandi
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 2 (2026): April
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i2.1277

Abstract

This community service study addresses the need to strengthen graduate quality in Islamic educational institutions facing contemporary challenges such as globalisation, cultural transformation, and moral development. The study aims to examine how integrating a networked curriculum model can support the development of graduate quality in State Tsanawiyah Madrasah (MTsN 2 Ciwaringin) and State Aliyah Madrasah (MAN 2 Ciwaringin) located in Babakan Ciwaringin, Cirebon. The research applies the Asset-Based Community Development (ABCD) approach, focusing on identifying and utilising existing institutional and community assets. The activities were conducted through mentoring, discussions, and collaborative sessions involving teachers as the main participants. Data were collected through observation, documentation, and discussion results, and were analysed descriptively to capture institutional processes and teacher engagement during the program. The findings indicate that both madrasahs demonstrate strong institutional assets, including qualified teachers, supportive learning environments, and connections with surrounding Islamic boarding schools. The integration of the networked curriculum model, implemented through participatory and collaborative processes, strengthens curriculum practices, teacher involvement, and institutional coordination. In addition, internal quality control mechanisms led by madrasah leadership were observed to support the implementation of curriculum integration. These findings are based on teacher participation, institutional processes, and descriptive evaluation rather than direct measurement of student outcomes. The study suggests that integrating a networked curriculum model through the ABCD approach provides a structured framework that supports the development of educational practices and graduate quality in madrasah contexts.
Implementasi Program STOP KABUR (Kawin di Bawah Umur) dalam Menekan Perkawinan Anak Ditinjau dari Hukum Islam: Studi Penelitian Pada Dinas DP2KBP3A Garut Wati Karmila; Ilham Ahmad; Nasihadin; Teguh S. Nurhadiyat
As-Sakinah : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2025): As-Sakinah : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : STAI Pelabuhan Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51729/sakinah321793

Abstract

Pernikahan di bawah umur masih sering terjadi di Indonesia, meskipun regulasi yang mengatur batas usia minimal pernikahan telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program stop kabur (kawin di bawah umur) dalam menekan perkawinan anak ditinjau dari hukum islam Pada Dinas DP2KBP3A Garut, yang berfokus pada teori aliran sociological jurisprudence yang melihat hukum sebagai cerminan dari norma-norma sosial dalam masyarakat. Dengan penelitian kualitatif yang berbasis studi kasus yang ada di Garut, penelitian ini menelaah berbagai aspek dari regulasi tersebut, serta menganalisis pengaruh norma sosial terhadap penerapannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program STOP KABUR sebagai program dinas DP2KBP3A Garut dinilai efektif menekan perkawinan anak di wilayah yang mendapatkan sosialisasi intensif dan dukungan tokoh agama, meski penerapannya belum merata karena faktor budaya, ekonomi, dan koordinasi antarinstansi. Program ini selaras dengan prinsip maqasid syariah dalam melindungi jiwa, akal, dan keturunan. Dengan penguatan implementasi dan kolaborasi lintas lembaga, STOP KABUR berpotensi menjadi strategi pencegahan perkawinan anak yang lebih optimal