Infeksi cacing pada anak-anak terus menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan sangat berkaitan dengan faktor sosioekonomi seperti kemiskinan, sanitasi, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kematian seorang balita bernama Raya di Sukabumi akibat infestasi cacing yang parah menyoroti bagaimana kurangnya dukungan sosial dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko kesehatan anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran kegagalan modal sosial sebagai determinan sosial dalam kasus kematian anak akibat infeksi cacing, serta kontribusi pendidikan sosial terhadap upaya pencegahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan menggunakan desain studi kasus eksploratif yang mencakup analisis dokumen dan tinjauan literatur dari berbagai publikasi ilmiah, laporan kebijakan, dan data statistik dari tahun 2020 hingga 2025. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodologi analisis konten dan sintesis tematik berdasarkan tiga dimensi modal sosial: ikatan, jembatan, dan koneksi. Temuan menunjukkan bahwa hubungan keluarga yang buruk, jaringan social masyarakat yang terbatas, dan kurangnya keterhubungan dengan lembaga formal mengakibatkan keterlambatan deteksi penyakit dan terbatasnya akses keluarga terhadap layanan kesehatan dasar. Gangguan ini membuat anak-anak lebih rentan terhadap infeksi cacing. Akibatnya, pengembangan modal sosial melalui pendidikan sosial, peningkatan literasi kesehatan masyarakat, dan integrasi layanan kesehatan serta administrasi kependudukan merupakan inisiatif penting untuk mencegah situasi serupa di masa mendatang.