Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STABILITY AND ACTIVITY OF LIPID A PHOSPHOETHANOLAMINE TRANSFERASE FROM NEISSERIA MENINGITIDIS IN THE PRESENCE OF SODIUM DEOXYCHOLATE [STABILITAS DAN AKTIVITAS LIPID A PHOSPHOETHANOLAMINE TRANSFERASE DARI NEISSERIA MENINGITIDIS TERHADAP PENAMBAHAN NATRIUM DEOKSIKOLAT] Ariela Samantha; Caitlyn Christvania Sihombing; Alice Vrielink
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8279

Abstract

Antibiotics are often used to fight infections caused by pathogenic bacteria. However, inappropriate use of antibiotics has caused many pathogenic bacteria to gain antibiotic resistance. Some resistance mechanisms arise through enzymatic modification of the bacterial membrane. Lipid A phosphoethanolamine transferase (EptA) modifies bacterial membranes through the addition of phosphoethanolamine to the lipid A moiety of lipopolysaccharide (LPS) or lipooligosaccharide (LOS). Inhibition of EptA would therefore restore the antibiotic susceptibility of the bacterium. In order to develop inhibitors against EptA, in vitro studies are required. Biochemical studies of membrane proteins such as EptA, must be carried out in buffers containing detergent to ensure the solubility and stability of the membrane protein. EptA has been found to be most stable in buffers containing the detergent, n-dodecyl β-D-maltoside (DDM). However, due to the fact that LOS is also required for biochemical studies of EptA, the detergent, sodium deoxycholate (DOC) is also required as it prevents the aggregation of LOS. In this study, the stability and activity of EptA in the presence of DOC were investigated using thin layer chromatography (TLC) and circular dichroism (CD) spectroscopy. Additionally, preliminary studies on the interaction of EptA and LOS in vitro was carried out using native agarose gel electrophoresis (NAGE). This study shows that EptA remains active in the presence of ‰¤ 2 mM DOC with the highest activity observed in buffers containing only 1 mM DOC. CD analysis showed that the overall secondary structure of EptA in buffer containing various concentrations of DDM and DOC was maintained. Additionally, through NAGE analysis the interaction between EptA and LOS was successfully observed. Therefore, further in vitro studies incorporating both substrates with supplementation of up to 1 mM DOC could be carried out with the long-term goal of studying inhibitors against EptA.Bahasa Indonesia Abstract:Antibiotik sering digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri patogen. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat telah menyebabkan banyak bakteri patogen mendapatkan resistensi antibiotik. Beberapa mekanisme resistensi muncul melalui modifikasi enzimatik dari membran bakteri. Lipid A phosphoethanolamine transferase (EptA) mengubah membran bakteri dengan menambahkan fosfoetanolamina ke bagian lipid A dari lipopolisakarida (LPS) atau lipooligosakarida (LOS). Penghambatan EptA akan mengembalikan kerentanan antibiotik dari bakteri tersebut. Untuk mengembangkan inhibitor terhadap EptA, studi in vitro diperlukan. Studi biokimia protein membran seperti EptA, harus dilakukan dalam larutan penyangga yang mengandung deterjen untuk memastikan kelarutan dan stabilitas protein membran. EptA ditemukan paling stabil dalam larutan penyangga yang mengandung deterjen, n-dodecyl β-D-maltosida (DDM). Namun, karena LOS juga diperlukan untuk studi biokimia EptA, deterjen, sodium deoksikolat (DOC) juga diperlukan karena mencegah agregasi LOS. Dalam penelitian ini, stabilitas dan aktivitas EptA dalam keberadaan DOC diselidiki menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC) dan spektroskopi dikroisme sirkular (CD). Selain itu, studi awal tentang interaksi EptA dan LOS in vitro dilakukan menggunakan elektroforesis gel agarosa asli (NAGE). Studi ini menunjukkan bahwa EptA tetap aktif dalam keberadaan ‰¤ 2 mM DOC dengan aktivitas tertinggi diamati dalam larutan penyangga yang hanya mengandung 1 mM DOC. Analisis CD menunjukkan bahwa struktur sekunder keseluruhan EptA dalam larutan penyangga yang mengandung berbagai konsentrasi DDM dan DOC tetap terjaga. Selain itu, melalui analisis NAGE, interaksi antara EptA dan LOS berhasil diamati. Oleh karena itu, studi in vitro lebih lanjut yang memasukkan kedua substrat dengan suplementasi hingga 1 mM DOC bisa dilakukan dengan tujuan jangka panjang untuk mempelajari inhibitor terhadap EptA.
Pemberdayaan Siswa melalui Edukasi Bio-Imunitas dan Pelatihan Gel Antiseptik Alami sebagai Upaya Preventif Tuberkulosis di SLH Curug Maroloan Aruan; Jessica Laurelia; Gabriella Gita Febriana; Juandy Jo; Caitlyn Christvania Sihombing; Jennifer Claudia Suryadi; Samantha Patricia; Jessica Aurelia Tjio; Richard Munich
CEMARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol 4 No 1 (2026): CEMARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/cemara.v4i1.3612

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan utama di Indonesia, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak usia sekolah. Rendahnya literasi mengenai bio-imunitas tubuh dan kurangnya praktik sanitasi mandiri di lingkungan sekolah berpotensi mempercepat transmisi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan preventif dan keterampilan psikomotorik siswa di Sekolah Lentera Harapan (SLH) Curug melalui edukasi bio-imunitas dan pelatihan pembuatan gel antiseptik alami. Intervensi dilakukan secara luring pada 78 siswa melalui penyuluhan interaktif "SATU TB" dan workshop peracikan gel antiseptik berbahan dasar lidah buaya, etanol, dan minyak atsiri. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman kognitif siswa yang signifikan berdasarkan komparasi rata-rata pretest dan posttest (75,9% menjadi 89,7%), terutama pada pemahaman mekanisme penularan bakteri melalui droplet yang melonjak drastis dari 21,8% menjadi 85,9%. Peserta didik juga berhasil meracik produk sanitasi secara mandiri. Secara operasional, tingkat keterlaksanaan program dinilai Sangat Baik dengan indeks kepuasan rata-rata 4,40 dari skala 5,00, di mana profesionalisme tim pelaksana mendapat apresiasi tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan terintegrasi antara edukasi biologi terapan dan teknologi tepat guna ini efektif memberdayakan siswa dalam mencegah penyebaran TBC secara mandiri. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat diintegrasikan melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) untuk menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).