Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fortifikasi Puree Wortel dan Labu Kuning pada Sosis Ayam sebagai Upaya Peningkatan Kandungan β-Karoten Dina Ismaningtyas; Khusnul Khotimah
Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology Vol. 4 No. 2 (2025): December
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jaht.v4i2.3140

Abstract

Sosis merupakan produk olahan daging yang digemari masyarakat karena praktis dan memiliki daya terima luas, namun umumnya masih memiliki keterbatasan dari sisi kandungan zat gizi fungsional. Penelitian sebelumnya mengenai fortifikasi vitamin A atau β-karoten pada produk daging umumnya masih berfokus pada mutu sensoris dan proksimat, serta belum menekankan kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan vitamin A harian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh fortifikasi puree wortel (Daucus carota) dan labu kuning (Cucurbita moschata) terhadap karakteristik sensoris dan kimia sosis ayam, serta menilai potensinya sebagai sumber provitamin A. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu perbandingan konsentrasi puree wortel dan labu kuning yang terdiri atas empat formulasi: F1 (2,5%:12,5%), F2 (5%:10%), F3 (7,5%:7,5%), dan F4 (10%:5%). Parameter yang dianalisis meliputi uji sensoris (warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan), analisis proksimat, serta kadar β-karoten. Data sensoris dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis, sedangkan data kimia dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F4 memiliki tingkat penerimaan sensoris tertinggi pada seluruh parameter. Sosis F4 memiliki kadar air 63,30%, abu 2,03%, protein 17,18%, lemak 1,46%, dan karbohidrat 16,02%, yang seluruhnya memenuhi standar SNI 3820:2015. Kandungan β-karoten sosis F4 sebesar 6.750,67 μg/100 g atau setara dengan 562,56 μg RAE vitamin A. Hasil ini menunjukkan bahwa fortifikasi puree wortel dan labu kuning dapat meningkatkan nilai gizi sosis ayam serta mendukung pengembangan pangan fungsional berbasis daging yang terjangkau dengan memanfaatkan bahan lokal, sebagai sumber provitamin A tambahan bagi kelompok rentan defisiensi vitamin A.
Efektivitas Problem Based Learning Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar Kelas IV dalam Konteks Nilai Gotong Royong Khusnul Khotimah; Roy Ardiansyah; Deni Zein Tarsidi
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 5 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ddi.v14i5.124821

Abstract

Keterampilan berpikir kritis perlu dikembangkan sejak sekolah dasar untuk mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan pembelajaran abad ke-21. Dalam kelas Pendidikan Pancasila, khususnya ketika membahas topik gotong royong, keterampilan ini membantu siswa mengidentifikasi masalah, mengevaluasi informasi, dan memilih solusi yang tepat. Namun, pada kenyataannya, metode pengajaran yang masih berpusat pada guru cenderung membatasi keterlibatan aktif siswa dalam aktivitas berpikir tingkat tinggi. Lebih lanjut, studi tentang penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) untuk tema gotong royong di sekolah dasar masih relatif sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji perubahan keterampilan berpikir kritis siswa setelah penerapan model PBL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi-eksperimental dan desain kelompok kontrol pretest-posttest, yang melibatkan 42 siswa kelas empat dari SD Segugus Singosari Kartasura sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Data dikumpulkan melalui tes esai keterampilan berpikir kritis dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,637 (p > 0,05), yang mengindikasikan tidak adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok. Meskipun demikian, melalui aktivitas pembelajaran yang berpusat pada pemecahan masalah, siswa menjadi lebih aktif dalam mengidentifikasi masalah, mengevaluasi informasi, dan mengembangkan solusi secara kolaboratif.