Zaahidah Aufaa Ahdillah
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Narasi Tunggal Buku Teks Sejarah dan Tantangan Pendidikan Bagi Realitas Keberagaman Zaahidah Aufaa Ahdillah; Widiati Isana
KALA MANCA: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH Vol 14 No 1 (2026): Kala Manca: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Setiabudhi Rangkasbitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69744/kamaca.v14i1.766

Abstract

Buku teks sejarah memiliki peran penting dalam pembelajaran sejarah dan pembentukan kesadaran sejarah peserta didik. Melalui buku teks, peserta didik diperkenalkan pada peristiwa masa lalu yang berfungsi untuk membangun identitas nasional dan nilai kebangsaan. Namun, dalam praktiknya, penulisan buku teks sejarah di Indonesia kerap didominasi oleh narasi tunggal yang dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ideologis negara. Narasi tunggal ini cenderung menyederhanakan kompleksitas sejarah, menonjolkan tokoh dan peristiwa tertentu, serta mengabaikan keragaman pengalaman historis kelompok masyarakat, khususnya kelompok minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakter narasi tunggal dalam buku teks sejarah di Indonesia, mengkaji dampaknya terhadap kesadaran sejarah peserta didik, serta mengidentifikasi tantangan dan alternatif pendidikan sejarah dalam konteks masyarakat multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis wacana kritis. Analisis difokuskan pada buku teks sejarah sebagai produk wacana negara dan dikaitkan dengan pemikiran para sejarawan serta kajian pendidikan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi tunggal dalam buku teks sejarah berpotensi membentuk kesadaran sejarah yang eksklusif, melemahkan empati sejarah, dan membatasi kemampuan berpikir historis peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran sejarah yang lebih inklusif dan multiperspektif, dengan melibatkan peran aktif guru, integrasi sejarah lokal, serta pendekatan empati dan reflektif. Pendidikan sejarah yang demikian diharapkan mampu merespons realitas keberagaman dan membentuk peserta didik yang kritis, toleran, dan berkesadaran sejarah.Kata kunci: Narasi tunggal, Buku sejarah, Pendidikan, Keberagaman.
Telaah Konsep Historical Thinking Sam Wineburg dalam Perspektif Psikologi Kognitif dan Pembelajaran Sejarah Zaahidah Aufaa Ahdillah; Cut Yusrina Uli Amina; Kamelia Revalina; Cut Shabrina Dzati Amani
Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara Vol. 1 No. 2 (2026): Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara
Publisher : Susilo Academic Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67200/kajang.v1i2.22

Abstract

Berpikir sejarah atau historical thinking bukanlah hasil otomatis dari perkembangan psikologis, melainkan kemampuan kognitif yang dibangun secara sadar. Psikologi kognitif memberikan kerangka untuk memahami mekanisme mental yang mendasari proses berpikir sejarah, seperti persepsi, perhatian, memori, dan penalaran. Artikel ini bertujuan menelaah konsep historical thinking yang dikemukakan oleh Sam Wineburg dalam perspektif psikologi kognitif serta relevansinya dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) terhadap karya-karya Sam Wineburg, literatur psikologi kognitif, dan kajian pembelajaran sejarah. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi konsep dan analisis interpretatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa historical thinking merupakan aktivitas kognitif tingkat tinggi yang bersifat tidak alamiah, sehingga memerlukan strategi pedagogis yang terencana. Kajian ini menegaskan pentingnya integrasi psikologi kognitif dalam pembelajaran sejarah untuk membangun pemahaman historis yang kritis dan kontekstual. Keberadaan psikologi kognitif memberikan kerangka untuk memahami mekanisme mental berpikir sejarah. Dalam hal ini, historical thinking diposisikan sebagai aspek penting yang menunjang peningkatan kualitas berpikir seorang individu (termasuk dalam peranannya sebagai warga negara).