Arifin Seweng
Departemen Biostatistik/KKB, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR RISIKO TIDAK MEMAKAI ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) PADA AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA Islahhatul Fuada Syamsul; Arifin Seweng; Masni Masni
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 4 No. 3: OCTOBER 2023
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v4i3.27986

Abstract

Latar Belakang: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu alat kontrasepsi jangka panjang bagi wanita dengan tingkat efektivitas yang paling tinggi dan aman dibandingkan metode kontrasepsi lainnya. Dalam pelaksanaan program keluarga berencana, salah satu masalah yang dihadapi adalah masih rendahnya akseptor KB yang menggunakan KB MKJP salah satunya AKDR sedangkan untuk jenis KB Non MKJP cenderung meningkat. Tujuan: Mengetahui faktor risko tidak memakai AKDR pada akseptor KB di Puskesmas Kaluku Bodoa Kota Makassar Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case control. Populasi penelitian ini adalah semua akseptor KB yang tercatat di wilayah uskesmas Kaluku Bodoa sebanyak 1484 orang yang terdiri dari kasus (non AKDR) dan kontrol (AKDR). Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Odds Ratio. Hasil: Terdapat beberapa variabel yang merupakan faktor risiko tidak memakai AKDR.  Hasil penelitian menujukkan bahwa umur (OR=17,66), pendidikan (OR=6,80), jenis kelamin anak (OR=2,31), paritas (OR=6,57), dukungan suami (OR=53,29), keterpaparan media informasi (OR=6,58) merupakan faktor risiko tidak memakai AKDR. Sedangkan jarak ke pusat pelayanan kesehatan bukan merupakan faktor risiko tidak memakai AKDR. Kesimpulan: Umur, pendidikan, jenis kelamin anak, paritas, dukungan suami dan keterpaparan media informasi merupakan faktor risiko tidak memakai AKDR, sedangkan jarak ke pusat pelayanan kesehatan bukan merupakan faktor risiko tidak memakai AKDR pada akseptor KB di Puskesmas Kaluku Bodoa Kota Makassar. Saran bagi pihak PLKB untuk melakukan penyuluhan agar meningkatkan kontribusi Masyarakat melalui program KB.
HUBUNGAN ANTARA KEKERASAN TERHADAP ANAK DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA M. Arie Rifky Syaifuddin; Rahma Rahma; Arifin Seweng
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 3: OCTOBER 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i3.30186

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan terhadap anak dapat berdampak buruk baik secara fisik maupun psikis pada anak. Berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa banyak remaja yang memiliki riwayat mengalami kekerasan berada pada risiko tinggi untuk terlibat dalam perilaku seksual. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengalaman mendapatkan kekerasan dengan perilaku seksual yang terjadi pada remaja di SMA Negeri 21 Makassar. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan cross sectional study yang dilaksanakan pada Februari – Maret 2023 di SMA Negeri 21 Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah adalah semua siswa aktif tahun ajaran 2022/2023 sebanyak 1266 orang dan sampel sebanyak 308 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan two stage cluster random sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Continuity Correction. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 130 siswa/i (42,2%) memiliki perilaku seksual yang beresiko. Kekerasan psikologis (p=0,022) dan penelantaran (p=0,000) memiliki hubungan dengan perilaku seksual remaja. Kekerasan fisik (p=0,205) dan kekerasan seksual (p=0,304) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan dengan perilaku seksual remaja. Kesimpulan: Kekerasan psikologis dan penelantaran memiliki hubungan dengan perilaku seksual remaja. Perlu untuk mengembangkan model pembinaan remaja yang meliputi reproduksi sebagai wadah menampung permasalahan remaja atau trauma anak yang memiliki riwayat kekerasan.