Andi Zulkifli Abdullah
Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARAWEANG, PANGKEP TAHUN 2023 Salsabila Aulia Faizal; Andi Zulkifli Abdullah; Ridwan Amiruddin
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 1: FEBRUARY 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i1.34854

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik pada anak balita akibat ketidakseimbangan nutrisi dan lingkungan yang tidak memadai selama masa pertumbuhan. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa prevalensi stunting pada balita di Indonesia mencapai 21,6%. Di Sulawesi Selatan, prevalensi stunting mencapai 27,2%, sementara Kabupaten Pangkep berada di peringkat ke-3 tertinggi sebesar 34,2%. Pada tahun 2020, sekitar 56,93% mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Taraweang dan terjadi penurunan pada tahun 2023 sebesar 22,31%. Tujuan: Menganalisis faktor risiko pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan case control study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Taraweang sebanyak 699 anak balita dari bulan November-Desember tahun 2023. Besar sampel adalah 132 sampel, dimana kasus 66 sampel dan kontrol 66 sampel. Sampel diperoleh dengan cara simple random sampling. Hasil: Analisis OR pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif (OR=5,12; 95%CI=2,27-11,69), status BBLR (OR=4,55; 95%CI=1,32-19,83), pendidikan ibu (OR=2,67; 95%CI=1,09-6,73), status ekonomi keluarga (OR=3,75; 95%CI=0,89-22,05), dan sanitasi lingkungan (OR=3,01; 95%CI=1,33-6,89) sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif, status BBLR, pendidikan ibu, status ekonomi keluarga, dan sanitasi lingkungan sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Taraweang, Kabupaten Pangkep tahun 2023. Disarankan kepada responden dan seluruh masyarakat untuk memberikan ASI eksklusif sesuai anjuran yang ditetapkan kepada anak balita agar meminimalisir kejadian stunting.
DETERMINAN KUALITAS HIDUP PENDERITA STROKE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KASSI-KASSI KOTA MAKASSAR TAHUN 2023 Latifah Rahmaniah; Ida Leida Maria; Andi Zulkifli Abdullah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 1: FEBRUARY 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i1.34942

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian. Stroke dapat menguji kemampuan fisik dan mental seseorang sehingga mempengaruhi kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup penderita stroke. Metode: Desain penelitian menggunakan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 212 pasien, adapun teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling sebanyak 164 sampel. Penelitian berlangsung pada tanggal 29 Februari-28 Maret 2024 di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Instrumen penelitian yang digunakan adalah SSQOL (Stroke Spesific Quality Of Life) dan Kuesioner Dukungan Keluarga. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan uji fisher. Hasil: Ada hubungan antara status pernikahan dengan kualitas hidup (p-value 0,001). Ada hubungan jenis stroke dengan kualitas hidup (p-value 0,000). Ada hubungan kecacatan fisik dengan kualitas hidup (p-value 0,000). Ada hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup (p-value 0,000). Sedangkan tidak ada hubungan lama stroke dengan kualitas hidup (p-value 0,525) dan tidak ada hubungan penyakit komorbid dengan kualitas hidup (p-value 0,353). Kesimpulan: Aspek kualitas hidup yang paling buruk adalah lingkungan karena pasien kurang percaya diri dengan kondisi yang dialami. Disarankan kepada pasien agar tetap optimis dan tidak putus asa serta tetap konsisten dalam menjalani pengobatan seperti terapi sehingga kecacatan yang dialami dapat disembuhkan.