Marsya Zusrieka
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kampanye Politik Food Vlogger Ubaidilah PKS dalam Memenangkan Pemilihan Legislatif DPRD Kota Depok 2024 Marsya Zusrieka; Anggrelita Mutiara Salsabila Dewi; Andzi Salwa Salsabila; Muhammad Sulthan Fatih; Giras Agung Jagratara; Abdul Ghofur
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi kampanye digital inovatif yang dilakukan oleh Ubaidilah, calon legislatif DPRD Kota Depok dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), melalui perannya sebagai food vlogger. Pendekatan ini digunakan untuk menyampaikan pesan politik secara halus, membangun citra otentik, dan memperkuat dukungan publik, khususnya dari pemilih muda dan pelaku UMKM. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur terhadap Ubaidilah serta studi dokumen dari berbagai sumber media dan akademik. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola-pola komunikasi politik yang muncul. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik, yaitu suatu metode analisis kualitatif yang fleksibel dan sistematis dalam mengidentifikasi pola, tema, dan makna dalam data. Tahapan analisis ini dimulai dengan pengurangan data, penyajian data, dan akhirnya penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi edutainment yang menggabungkan konten kuliner dengan pesan politik terbukti efektif dalam membangun keterhubungan emosional dengan audiens. Keaslian konten, konsistensi nilai politik, dan kolaborasi dengan influencer lokal memperkuat daya jangkau kampanye. Selain itu, pendekatan ini juga berdampak langsung pada peningkatan visibilitas UMKM yang menunjukkan adanya kontribusi ekonomi di luar fungsi politik. Studi ini menyimpulkan bahwa strategi kampanye yang mengintegrasikan budaya populer, seperti food vlogging, mampu membentuk komunikasi politik yang lebih inklusif, persuasif, dan relevan di era digital. Penggabungan antara konten populer dengan pesan politik dalam kampanye Ubaidillah menunjukkan potensi komunikasi yang inovatif dan beresonansi secara budaya dapat membentuk kembali keterlibatan publik dalam proses pemilu. Temuan ini menawarkan alternatif terhadap metode kampanye konvensional dan merekomendasikan pengembangan strategi berbasis kedekatan kultural dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih.
Resistensi Perempuan Iran terhadap Kebijakan Wajib Berhijab: Studi Perbandingan dengan Pelarangan Hijab di Tajikistan Najla Dara Ayunda; Marsya Zusrieka; Chifra Zeila Pramesyanti; Muhamad Kahar Mudzakar Ramzy Sarman; Nurdin Nurdin
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2678

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang kebijakan terhadap penggunaan hijab di negara Iran dan Tajikistan, serta respon dari kaum perempuan dari keluarnya kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi komparatif serta data sekunder, penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika sosial-budaya dan bentuk resistensi sebagai hasil dari intervensi negara terhadap tubuh perempuan. Dari hasil penelitian, negara Iran mewajibkan pemakaian hijab sebagai bentuk dari implementasi ideologi islam pasca revolusi 1979. Namun, Tajikistan dengan negara dengan mayoritas muslim, melarang penggunaan hijab sebagai dalih menjaga nilai-nilai budaya nasional, dan pembangunan identitas nasional yang sekuler. Dengan diberlakukannya sanksi administratif serta dibuatnya pembatasan pergi ke area publik bagi pengguna hijab. Meski memiliki perbedaan pada kepentingan, kedua negara menunjukan kesamaan pada kebijakan tentang berpakaian, yang digunakan sebagai alat kontrol negara atas tubuh perempuan. Kebijakan kewajiban dan pembatasan tersebut telah memicu respon kaum perempuan dari kedua negara, dengan melakukan gerakan-gerakan resistensi, mulai dari protes yang dilakukan di publik seperti gerakan “white wednesday”, hingga di protes yang dilakukan pada ruang digital, seperti gerakan “My Stealthy Freedom”. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kebijakan di kedua negara tersebut merupakan hasil manifestasi kontrol politik atas perempuan yang mencerminkan konflik dari hak kebebasan individu atas tubuhnya sendiri. implikasi dari penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan agar disusun secara transparan dan melibatkan masyarakat, Serta memastikan kebijakan tersebut tidak mencederai hak kebebasan berekspresi. Penulis memberikan saran kepada penelitian selanjutnya untuk lebih mendalami kembali literatur dan juga media online untuk mengikuti terus perkembangan dari kebijakan serta gerakan resistensi di kedua negara.