Fitra Khaz
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning Dumai

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Media Sosial dalam Membentuk Partisipasi Politik Pada Generasi Z dalam Pemilu Serentak 2024 Fitra Khaz; Siti Aisyah; Amelia Fitriani; Ayu Ambarwati; Cici Sari
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media sosial berperan dalam membentuk partisipasi politik Generasi Z pada Pemilu Serentak 2024, khususnya dalam konteks penggunaan media digital sebagai sumber informasi dan ruang interaksi politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam pengalaman, pandangan, serta bagaimana partisipasi politik Generasi Z yang berlangsung di ruang digital. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan Generasi Z berusia 17–28 tahun yang berdomisili di Kota Dumai dan aktif menggunakan berbagai platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, X, dan YouTube. Analisis penelitian ini didasarkan pada teori peran yang memandang media sosial sebagai ruang sosial tempat terbentuknya kedudukan, harapan, dan pelaksanaan peran dalam aktivitas politik generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menjadi saluran utama bagi Generasi Z dalam memperoleh dan memahami informasi politik selama tahapan Pemilu 2024. Informasi politik lebih banyak diakses melalui konten visual dan narasi singkat yang dianggap mudah dipahami dan relevan dengan keseharian mereka, sehingga platform seperti TikTok dan Instagram digunakan secara lebih intensif dibandingkan media lainnya. Partisipasi politik Generasi Z cenderung diwujudkan melalui aktivitas digital, seperti mengakses, membagikan, dan menanggapi konten politik, serta menggunakan tagar untuk merespons isu yang sedang berkembang. Pola partisipasi tersebut berlangsung terutama dalam bentuk komunikasi dan simbolisasi di ruang daring, sementara keterlibatan dalam aktivitas politik secara langsung relatif lebih terbatas. Temuan ini menggambarkan bahwa media sosial telah menjadi ruang partisipasi politik yang penting bagi Generasi Z khususnya dalam konteks demokrasi digital menjelang Pemilu Serentak 2024 dalam perkembangan politik digital Indonesia saat ini.
Peran Tokoh Agama Islam dalam Dinamika Politik Lokal di Riau Fitra Khaz; Ferdiansyah Syahputra; Muhammad Faiza; Hendri Kasuma; M Zaqilman; Jamal Muhammad
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3613

Abstract

Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang sangat religius, di mana terdapat hubungan erat antara agama dan politik, terutama di tingkat lokal. Di Provinsi Riau, tokoh agama Islam memiliki posisi sosial yang strategis dan berpengaruh dalam membentuk opini publik serta preferensi politik masyarakat. Mengingat tingkat religiositas yang tinggi di wilayah ini, keterlibatan tokoh agama dalam politik lokal menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari proses pemilihan umum dan pengambilan keputusan politik. Akan tetapi, peran tokoh agama Islam dalam politik praktis membawa berbagai implikasi, termasuk legitimasi politik dan potensi polarisasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran tokoh agama Islam dalam dinamika politik lokal di Riau, serta menganalisis pengaruh dan tantangan yang muncul dari keterlibatan mereka. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam dan analisis data sekunder dari literatur, media massa, dan dokumen terkait. Dalam penelitian ini, tokoh agama Islam dipandang sebagai aktor sosial yang berfungsi sebagai pemimpin spiritual, sumber legitimasi moral, dan mediator antara kepentingan politik dan nilai-nilai keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan elektabilitas calon, membangun kesadaran politik masyarakat, serta meredam konflik sosial. Kendati demikian, keterlibatan dalam politik juga dapat menimbulkan polarisasi dan menurunkan kepercayaan sebagian jamaah. Oleh karena itu, diperlukan sikap bijaksana dan pembatasan peran yang proporsional agar kontribusi tokoh agama Islam dapat memperkuat demokrasi lokal tanpa mengganggu kohesi sosial.