Aulia Rahuma
Universitas Mulawarman

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sosialisasi Kesadaran Keberagaman Masyarakat kepada Siswa Kelas XI 4 Man 2 Samarinda Aulia Rahuma; Siti Marfuah; Muhammad Azmi; Elisa; Andri Ramadhan
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 01 (2025): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i01.3184

Abstract

Kegiatan sosialisasi Diversity Awareness di MAN 2 Samarinda menggunakan metode Service Learning bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya keberagaman budaya di lingkungan mereka. Kegiatan ini melibatkan empat tahapan utama, yaitu investigasi, perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi, yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami konsep keberagaman secara lebih mendalam melalui materi yang disampaikan secara interaktif. Umpan balik dari siswa mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta merasa kegiatan ini bermanfaat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari di Samarinda yang multikultural. Meskipun demikian, terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki, seperti peningkatan kenyamanan lokasi kegiatan dan penyesuaian durasi agar lebih sesuai dengan preferensi siswa. Dengan penyesuaian tersebut, diharapkan kegiatan serupa di masa mendatang dapat memberikan dampak yang lebih besar dalam membangun kesadaran sosial siswa terhadap keberagaman budaya dan meningkatkan keterampilan sosial mereka. Metode Service Learning terbukti efektif dalam mengintegrasikan pembelajaran akademis dengan pelayanan kepada komunitas, serta membangun kesadaran akan pentingnya toleransi dalam masyarakat multikultural.
IMPLEMENTASI MODEL PJBL PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII DI SMP NEGERI 4 SAMARINDA Angela Silvia; Aulia Rahuma
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i4.15875

Abstract

Social Studies instruction frequently faces obstacles regarding low active student engagement in contextual concept construction. This study aims to describe the implementation of the Project-Based Learning (PjBL) model assisted by pop-up media in Grade VIII Social Studies at SMP Negeri 4 Samarinda, while analyzing constraints encountered by teachers and students. A descriptive qualitative design was employed, with informants selected via purposive sampling, consisting of one Social Studies teacher and five students from class VIII-6. Data collection was carried out through classroom observations, in-depth interviews, and curriculum documentation analyses. Interactive data analysis applied data condensation, data display, and conclusion drawing verified through source and method triangulation. The findings revealed that PjBL implementation proceeded through three sequential stages: planning, executing the pop-up project, and conducting authentic assessments. Primary constraints stemmed from instructional time management, disparities in group collaboration, and technological operational barriers. ABSTRAK Pembelajaran IPS masih menghadapi tantangan berupa rendahnya keterlibatan aktif peserta didik dalam mengonstruksi pemahaman kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model Project-Based Learning (PjBL) berbantuan media pop-up pada mata pelajaran IPS di kelas VIII SMP Negeri 4 Samarinda, sekaligus menganalisis kendala yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan penentuan subjek melalui purposive sampling, yang mencakup satu guru IPS dan lima peserta didik kelas VIII-6. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan telaah dokumen kurikulum. Analisis data interaktif menerapkan prosedur reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi PjBL terlaksana secara terstruktur melalui tiga tahapan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan proyek pembuatan media pop-up, dan evaluasi autentik. Kendala utama bersumber dari manajemen alokasi jam pelajaran, disparitas partisipasi kerja sama kelompok, serta keterbatasan pengoperasian media digital.  
IMPLEMENTASI MODEL PBL PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII DI SMP NEGERI 4 SAMARINDA Adellina Adellina; Aulia Rahuma
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i4.15938

Abstract

Social studies instruction in junior high schools is frequently dominated by conventional lecturing methods, resulting in low cognitive engagement and passive student involvement. This pedagogical gap necessitates the implementation of innovative learning models capable of contextualizing academic content with real-world societal phenomena. This study aims to describe the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model in eighth-grade social studies instruction at SMP Negeri 4 Samarinda and identify the operational obstacles encountered by both teachers and students. A qualitative descriptive approach was utilized with informants selected via purposive sampling, consisting of one certified social studies teacher and five students representing diverse academic performance levels. Data collection was carried out through passive participant observation, in-depth semi-structured interviews, and documentary review of teaching modules from August to October 2025. Data analysis followed the interactive model of Miles and Huberman, encompassing data condensation, data display, and conclusion drawing, validated through source and methodological triangulation. The results reveal that PBL implementation proceeded through differentiated module planning, systematic execution of five PBL syntax phases supported by contextual audio-visual media on Indonesian geographical conditions, and authentic rubric-based assessment evaluating collaborative processes and final presentations. Key operational obstacles included restricted instructional time allocations, unstable school internet connectivity, unequal role distribution within group discussions, and limited classroom audio speaker facilities. ABSTRAK Praktik pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah menengah pertama masih kerap didominasi oleh metode ceramah konvensional yang mengakibatkan rendahnya keterlibatan kognitif dan keaktifan kritis peserta didik. Kondisi kesenjangan pedagogis tersebut menuntut adanya implementasi model pembelajaran inovatif yang mampu mengontekstualisasikan materi pelajaran dengan fenomena riil kemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPS kelas VIII-1 di SMP Negeri 4 Samarinda serta mengidentifikasi berbagai kendala operasional yang dihadapi guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif melalui pemilihan informan secara purposive sampling, yang melibatkan satu orang guru mata pelajaran IPS dan lima orang peserta didik berkemampuan variatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan telaah dokumen modul ajar selama kurun waktu Agustus hingga Oktober 2025. Analisis data menerapkan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model PBL terlaksana melalui tahapan perencanaan modul ajar berdiferensiasi, pelaksanaan lima fase sintaks PBL terstruktur berbantuan media audio-visual kontekstual kondisi geografis Indonesia, serta evaluasi autentik berbasis rubrik proses dan kinerja. Kendala mendasar yang teridentifikasi mencakup keterbatasan alokasi jam pelajaran, ketidakstabilan jaringan internet sekolah, ketimpangan kontribusi peran dalam diskusi kelompok, serta keterbatasan perangkat pengeras suara ruang kelas.