Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penggunaan Media Cerita Anak Dalam Pembelajaran Teks Ulasan Di Sekolah Dasar Santa Margaretha Sitanggang; Erizca Amanda Saragih; Revalina Angelila Sianipar; Dea Larasati Lubis; Sella Enzelika Br. Ginting
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.823

Abstract

Pembelajaran teks ulasan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar masih menghadapi berbagai kendala, terutama rendahnya kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dan menyampaikan tanggapan terhadap cerita yang dibaca. Selain itu, proses pembelajaran yang masih berpusat pada metode ceramah menyebabkan siswa mudah merasa bosan dan kurang aktif dalam kegiatan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media cerita anak dalam pembelajaran teks ulasan serta mengetahui respons siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas IV A dan guru Bahasa Indonesia di SD Negeri 101774 Sampali. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media cerita anak, khususnya cerita bergambar, mampu meningkatkan minat baca, partisipasi, dan antusias siswa dalam pembelajaran teks ulasan. Siswa menjadi lebih mudah memahami unsur-unsur cerita seperti tokoh, alur, latar, dan pesan moral, serta lebih berani menyampaikan pendapat dalam bentuk teks ulasan sederhana. Selain itu, suasana pembelajaran menjadi lebih aktif, interaktif, dan menyenangkan dibandingkan pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah dan buku teks. Media cerita anak juga membantu siswa menyusun teks ulasan yang lebih terstruktur dan komunikatif. Dengan demikian, penggunaan media cerita anak dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan dan keterampilan menulis teks ulasan siswa sekolah dasar.
Analisis Kesalahan Dan Miskonsepsi Siswa Kelas IV SD Dalam Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan Santa Margaretha Sitanggang; Erizca Amanda Saragih; Revalina Angelila Sianipar; Dea Larasati Lubis; Sella Enzelika Br. Ginting
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1020

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kesalahan dan miskonsepsi siswa kelas IV sekolah dasar dalam materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 101774 Sampali dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas guru dan siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi pembelajaran matematika serta wawancara semi terstruktur dengan guru kelas IV. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama miskonsepsi siswa, yaitu kesalahan memahami pecahan sebagai bagian dari keseluruhan, kesalahan membandingkan nilai pecahan berdasarkan penyebut, dan kesalahan prosedural dalam operasi penjumlahan pecahan berbeda penyebut. Siswa cenderung menjumlahkan pembilang dan penyebut secara langsung tanpa menyamakan penyebut terlebih dahulu. Faktor penyebab miskonsepsi meliputi lemahnya pemahaman konsep dasar pecahan, penggunaan metode pembelajaran yang terlalu cepat, minimnya media konkret, serta perbedaan kemampuan awal siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru menerapkan penggunaan alat peraga konkret, diskusi kelompok, dan asesmen diagnostik awal guna mengetahui tingkat pemahaman siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa miskonsepsi pada materi pecahan bersifat multidimensional sehingga penanganannya memerlukan pembelajaran berbasis pemahaman konseptual, penggunaan media manipulatif secara konsisten, serta strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah dasar.
THE EFFECT OF BILINGUAL EDUCATION ON STUDENT’ COGNITIVE FLEXIBILITY: A SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW Tiarnita Maria Sarjani Br. Siregar; Santa Margaretha Sitanggang; Erizca Amanda Saragih; Sella Enzelika Br. Ginting; Dea Larasati Lubis
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 6.C (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to synthesize empirical evidence regarding the effect of bilingual education on students' cognitive flexibility, a key component of executive function. Cognitive flexibility is defined as the ability to switch between different tasks or sets of rules, which is theoretically enhanced by the necessity to simultaneously manage two language systems. This study employs a Systematic Literature Review (SLR) method, analyzing seven core journals (international and national) that discuss the correlation between bilingualism, bilingual education, and cognitive development, specifically cognitive flexibility, within educational contexts. The review results indicate a significant and positive relationship between bilingual education and enhanced cognitive flexibility. The dominant evidence supports the finding that bilingual programs provide an advantage in cognitive control tasks, as affirmed by global meta-analyses and studies in Indonesia. This advantage is believed to stem from the strengthening of the brain's cognitive control mechanisms, which are continuously trained by the process of cross-linguistic task switching. Although some inconsistencies related to moderating factors (such as the degree of bilingualism and participant age) were found, the findings overwhelmingly suggest that bilingual education should be viewed as an effective pedagogical intervention for optimizing students' cognitive development. It is recommended that educational institutions reinforce bilingual programs as a means of developing adaptive thinking skills.