Anton Sumarpo
Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Ekstrak Phoenix Dactylifera Terhadap Eritrosit Dan Fragmented Red Blood Cell Pada Darah Tepi Tikus Wistar Anemia Defisiensi Besi Akibat Pemberian Deferasirox Ahista Saskirana Putri; Nisrina Raudhatul Jannah Almas; Hiski Aulia; Budiono Raharjo; Anggraheny Soelistyaningtyas; Stephani Linggawan; Farida Anggraini Soetedjo; Catherine Keiko Gunawan; Anton Sumarpo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i3.22432

Abstract

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang paling umum, terutama pada kelompok rentan. Penggunaan deferasirox sebagai agen kelator besi dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping berupa penurunan kadar eritrosit dan peningkatan Fragmented Red Blood Cell (FRC). Maka diperlukan alternatif terapi pendamping yang bersifat alami, aman, dan efektif. Buah Phoenix Dactylifera (kurma) diketahui mengandung zat besi, vitamin C, serta senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung eritropoiesis dan melindungi eritrosit dari kerusakan. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera terhadap jumlah dan morfologi eritrosit serta FRC pada tikus Wistar yang mengalami ADB akibat induksi deferasirox. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain randomized control group pretest-posttest. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi empat kelompok, termasuk kontrol negatif dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak Phoenix Dactylifera yang berbeda. Jumlah eritrosit dan proporsi FRC diukur sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan hematology analyzer dan analisis mikroskopis. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Dunn’s post-hoc test. Hasilnya tidak didapatkan perbedaan signifikan jumlah eritrosit antar kelompok (p = 0,907), namun terdapat perbedaan signifikan pada proporsi FRC antar kelompok (p 0,001). Kelompok yang diberi ekstrak Phoenix Dactylifera dosis 500 mg/kg BB menunjukkan penurunan FRC paling signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulannya yakni pemberian ekstrak Phoenix Dactylifera menunjukkan efektivitas dalam menurunkan Fragmented Red Blood Cell (FRC) dan cenderung meningkatkan jumlah eritrosit, sehingga berpotensi sebagai terapi pendamping yang aman dalam penanganan anemia defisiensi besi akibat deferasirox.
Gambaran Systemic Immune-Inflammation Index (SII) Pada Pasien Sari Yang Terinfeksi Bakteri Gram Negatif Dan Gram Positif Di Klinik Utama Mitra Medika Tambakan Angelica Joanna Agatha Christie; Frecillia Regina; Anton Sumarpo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 5 (2026): Volume 13 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i5.23685

Abstract

SARI (severe acute respiratory infection) adalah infeksi saluran pernapasan akut, dengan riwayat demam suhu ≥ 38°C, batuk, berlangsung dalam 10 hari terakhir, dan membutuhkan rawat inap. SARI merupakan tantangan kesehatan global yang serius. SII berperan sebagai penanda biologis inflamasi yang dapat mencerminkan status imun dan dan inflamasi sistemik dalam tubuh. ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran SII pada pasien SARI yang terinfeksi bakteri gram positif dan gram negative di Klinik Utama Mitra Medika Tambakan. Desain penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan data sekunder yang diambil secara cross sectional retrospektif melalui rekam medis pasien berjumlah 58 data. Data dianalisis dengan uji deskriptif numerik Kolmogorov-Smirnov dan dilakukan analisis tambahan menggunakan uji beda rerata. Terdapat gambaran kelompok usia terbanyak adalah usia 18 tahun dengan kelompok jenis kelamin terbanyak adalah perempuan yang berjumlah 30 pasien. Uji normalitas menunjukkan nilai SII terdistribusi normal, sehingga pada analisis tambahan didapatkan adanya perbedaan rerata pada nilai SII terhadap bakteri gram positif (628,88) dan gram negatif (949,13), namun perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik (P=0,07). Subjek penelitian didominasi oleh usia 18 tahun dan perempuan,  dan terdapat adanya perbedaan rerata yang tidak bermakna secara statistik antara gram negatif dan gram positif.
Efektivitas Pemberian Ekstrak Phoenix Dactylifera Terhadap Retikulosit Dan Serum Iron Pada Darah Tepi Tikus Wistar Yang Mengalami Anemia Defisiensi Besi Nisrina Raudhatul Jannah Almas; Hiski Aulia; Ahista Saskirana Putri; Budiono Raharjo; Anggraheny Soelistyaningtyas; Stephani Linggawan; Farida Anggraini Soetedjo; Catherine Keiko Gunawan; Anton Sumarpo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 4 (2026): Volume 13 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i4.22431

Abstract

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah Kesehatan yang umum terjadi, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, yang ditandai dengan rendahnya kadar hematologis akibat kekurangan zat besi. Phoenix dactylifera (kurma) mengandung berbagai senyawa aktif seperti zat besi, flavonoid, dan fenolik yang berpotensi mendukung eritropoiesis. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan rancangan randomized posttest-only control group design. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan sehat berbobot 200–300 gram dibagi menjadi 4 kelompok (n=6), yaitu kontrol negatif yang hanya diberi pakan standar, P1 diberikan ferrous sulfate dosis 100 mg/kgBB/hari, P2 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 250 mg/kgBB/hari, serta P3 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 500 mg/kgBB/hari. Induksi anemia defisiensi besi pada kelompok P1, P2, dan P3 dilakukan menggunakan deferasirox 50 mg/kgBB/hari selama 14 hari, kemudian dilanjutkan intervensi selama 21 hari. Pemeriksaan retikulosit dilakukan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-1000 A1, sedangkan kadar serum iron diukur dengan metode kolorimetri spektrofotometri. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dengan taraf signifikansi p0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada jumlah retikulosit (p=0,401) maupun kadar serum iron (p=0,431) antar kelompok. Rerata jumlah retikulosit tertinggi ditemukan pada kelompok P1, sedangkan rerata kadar serum iron tertinggi di antara kelompok yang diinduksi ditemukan pada kelompok P2.