Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah Kesehatan yang umum terjadi, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, yang ditandai dengan rendahnya kadar hematologis akibat kekurangan zat besi. Phoenix dactylifera (kurma) mengandung berbagai senyawa aktif seperti zat besi, flavonoid, dan fenolik yang berpotensi mendukung eritropoiesis. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan rancangan randomized posttest-only control group design. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan sehat berbobot 200–300 gram dibagi menjadi 4 kelompok (n=6), yaitu kontrol negatif yang hanya diberi pakan standar, P1 diberikan ferrous sulfate dosis 100 mg/kgBB/hari, P2 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 250 mg/kgBB/hari, serta P3 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 500 mg/kgBB/hari. Induksi anemia defisiensi besi pada kelompok P1, P2, dan P3 dilakukan menggunakan deferasirox 50 mg/kgBB/hari selama 14 hari, kemudian dilanjutkan intervensi selama 21 hari. Pemeriksaan retikulosit dilakukan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-1000 A1, sedangkan kadar serum iron diukur dengan metode kolorimetri spektrofotometri. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dengan taraf signifikansi p0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada jumlah retikulosit (p=0,401) maupun kadar serum iron (p=0,431) antar kelompok. Rerata jumlah retikulosit tertinggi ditemukan pada kelompok P1, sedangkan rerata kadar serum iron tertinggi di antara kelompok yang diinduksi ditemukan pada kelompok P2.
Copyrights © 2026