Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Profil Progesteron sapi Perah Frisian Holstein dengan Pemberian Pemberian PGF2α pada Korpus Luteum Persisten ERPRINANDA GALUH BERLIANA
Mandalika Veterinary Journal Vol. 6 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/mvj.v6i1.17792

Abstract

The aim of this study was to determine the profile of progesterone hormone in serum dairy cattle that experienced corpus luteum persisntent in KUD Tani Wilis, Sendang Tulungagung district. This study used 10 diary cows that experience CLP that had body score condition under 3 and ever had breeding at least one time or had normal oestrous cycle. This study had three times to got sample. First when the cow had diagnosed, second when oestrous and third when 21 day after artificial Insemination. The result of this study showed the average progesterone profile of corpus luteum persistent at the first, second and thid sampels are 7.085 ± 0.85 ng/ml, 0.592 ± 0.08 ng/ml and 14.120 ± 5.15 ng/ml. the average oestrus is 6.9 day and conception rate is 60%.
DETEKSI TELUR CACING PADA SAPI BALI (Bos sondaicus) DI DESA SIGERONGAN KECAMATAN LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Widia Lestari; Erprinanda Galuh Berliana; Alifianita Anake Yansri; Sesa Puput Febrianti
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Helminthiasis merupakan salah satu penyakit parasit yang masih menjadi permasalahan pada peternakan sapi Bali karena dapat menurunkan kesehatan dan produktivitas ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan telur cacing gastrointestinal serta mengetahui tingkat prevalensi infeksi pada sapi Bali (Bos sondaicus) di Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan pemeriksaan 100 sampel feses sapi Bali yang diambil secara purposive sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode natif, flotasi, dan sedimentasi, kemudian telur cacing diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 sampel yang diperiksa, sebanyak 10 sampel (10%) teridentifikasi positif mengandung telur cacing. Tiga jenis telur cacing yang ditemukan yaitu Trichostrongylus sp. sebanyak 7 sampel (7%), Haemonchus sp. sebanyak 2 sampel (2%), dan Fasciola sp. sebanyak 1 sampel (1%). Trichostrongylus sp. merupakan jenis telur cacing yang paling dominan ditemukan pada penelitian ini. Prevalensi infeksi yang relatif rendah diduga dipengaruhi oleh penerapan manajemen pemeliharaan yang cukup baik, seperti sanitasi kandang dan pemberian obat cacing secara berkala. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa helminthiasis masih ditemukan pada sapi Bali di lokasi penelitian sehingga diperlukan upaya pengendalian yang berkelanjutan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produktivitas ternak.
HUBUNGAN RIWAYAT PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA SAPI BETINA DI KECAMATAN BATU LAYAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Muhammad Arsy Hidayat; Erprinanda Galuh Berliana; Devia Wulandasari; Laily ‘Ulya Nurul’ Ilmi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit hewan menular strategis yang berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, termasuk performa reproduksi sapi betina. Infeksi PMK dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan hormonal yang berpotensi memengaruhi fungsi reproduksi, seperti infertilitas dan abortus. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan riwayat PMK serta kejadian gangguan reproduksi pada sapi betina di Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan analisis univariat terhadap 100 ekor sapi betina yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada peternak dan observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% sapi betina memiliki riwayat PMK. Pada kelompok sapi dengan riwayat PMK (n=95), kejadian infertilitas mencapai 73,68% dan abortus sebesar 70,53%. Distribusi umur didominasi sapi berumur 3 tahun (35,79%), sedangkan berdasarkan Body Condition Score (BCS), sebagian besar sapi berada pada kategori ideal (57,89%), diikuti kategori gemuk (30,52%) dan sangat gemuk (6,31%). Tingginya kejadian gangguan reproduksi pada sapi yang memiliki riwayat PMK menunjukkan bahwa infeksi PMK berpotensi memengaruhi performa reproduksi meskipun sebagian besar sapi memiliki kondisi tubuh yang ideal. Temuan penelitian ini memberikan gambaran mengenai kondisi reproduksi sapi betina pasca-PMK dan dapat menjadi informasi pendukung dalam upaya pengelolaan kesehatan reproduksi ternak serta pengendalian dampak PMK di tingkat peternak.