Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LAJU PERTUMBUHAN DIMENSI LINGKAR TUBUH BABI DOMESTIK (Sus scrofa domesticus) DI KABUPATEN LOMBOK BARAT Nova Eriyanto; Ni Luh Lasmi Purwanti; Mariyam Al Haddar; Devia Wulandasari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 12 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu daerah penghasil ternak babi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh yang meliputi lingkar leher (regio cervicalis), lingkar abdomen (regio abdominal), dan lingkar panggul (regio coxalis) pada babi domestik jantan dan betina. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan dua faktor utama, yaitu jenis kelamin dan umur. Sampel terdiri dari 54 ekor babi domestik (27 jantan dan 27 betina) berumur 1 hingga 5 bulan yang diukur setiap bulan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin dan umur berpengaruh nyata terhadap dimensi lingkar tubuh. Babi jantan memiliki pertumbuhan paling dini yaitu pada dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,812), kemudian disusul oleh lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,042) dan terakhir tumbuh adalah dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,118). Sedangkan babi betina dimensi yang paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher (regio cervicalis) dengan nilai laju (b=0,852), kemudian disusul oleh dimensi lingkar abdomen (regio abdominal) dengan nilai laju (b=1,038) dan dimensi lingkar yang paling akhir tumbuh yaitu dimensi lingkar panggul (regio coxalis) dengan nilai laju (b=1,086). Hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan dari fungsi fisiologis tubuh dan adanya pengaruh peran hormonal seperti androgen pada ternak jantan serta estrogen pada ternak betina. Kata kunci: Babi domestik, Laju pertumbuhan, Dimensi lingkar, jantan, betina.
HUBUNGAN RIWAYAT PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA SAPI BETINA DI KECAMATAN BATU LAYAR KABUPATEN LOMBOK BARAT Muhammad Arsy Hidayat; Erprinanda Galuh Berliana; Devia Wulandasari; Laily ‘Ulya Nurul’ Ilmi
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 13 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit hewan menular strategis yang berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, termasuk performa reproduksi sapi betina. Infeksi PMK dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan hormonal yang berpotensi memengaruhi fungsi reproduksi, seperti infertilitas dan abortus. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan riwayat PMK serta kejadian gangguan reproduksi pada sapi betina di Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan analisis univariat terhadap 100 ekor sapi betina yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada peternak dan observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% sapi betina memiliki riwayat PMK. Pada kelompok sapi dengan riwayat PMK (n=95), kejadian infertilitas mencapai 73,68% dan abortus sebesar 70,53%. Distribusi umur didominasi sapi berumur 3 tahun (35,79%), sedangkan berdasarkan Body Condition Score (BCS), sebagian besar sapi berada pada kategori ideal (57,89%), diikuti kategori gemuk (30,52%) dan sangat gemuk (6,31%). Tingginya kejadian gangguan reproduksi pada sapi yang memiliki riwayat PMK menunjukkan bahwa infeksi PMK berpotensi memengaruhi performa reproduksi meskipun sebagian besar sapi memiliki kondisi tubuh yang ideal. Temuan penelitian ini memberikan gambaran mengenai kondisi reproduksi sapi betina pasca-PMK dan dapat menjadi informasi pendukung dalam upaya pengelolaan kesehatan reproduksi ternak serta pengendalian dampak PMK di tingkat peternak.