Cipto Budy Handoyo
Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Culturally Responsive Pedagogy in Practice: Learning Strategies and Character Building in Javanese Gamelan Education at an Indonesian High School Cipto Budy Handoyo; Akbar Bagaskara
PPSDP International Journal of Education Vol. 5 No. 1 (2026): PPSDP International Journal of Education
Publisher : Perkumpulan Program Studi Doktor Pendidikan (PPSDP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59175/pijed.v5i1.895

Abstract

This qualitative study investigates the strategies for teaching Javanese gamelan at SMAN 1 Kasihan Bantul in Yogyakarta, Indonesia, with a specific focus on how these strategies facilitate character education. Employing a field research design, data were collected through direct observation of gamelan lessons and semi-structured interviews with one teacher and participating students. The findings reveal a contextually designed, gradual pedagogical approach that effectively accommodates students with heterogeneous, primarily beginner, musical backgrounds. Key strategies included prioritizing student comfort and familiarization over technical mastery, selecting simple Lancaran and Ladrang repertoire with variations (racik), and integrating theory contextually into hands-on practice. This approach proved effective in boosting student motivation, engagement, and musical understanding. Beyond musical skill acquisition, the learning process served as a powerful medium for instilling character values such as mutual respect (e.g., through customs like not stepping over instruments), discipline and emotional regulation (through ensemble cohesion), and inclusive leadership (symbolized by the kendang player's role). The study concludes that the gamelan program at SMAN 1 Kasihan Bantul offers an integrative, culture-based model for arts education, relevant to both music pedagogy and local cultural preservation in secondary schools.
NILAI AKSIOLOGIS DALAM TARI GANDHONG DI KECAMATAN MUNJUNGAN KABUPATEN TRENGGALEK: PERSPEKTIF FILSAFAT SENI Andya Meli Ratnasari; Cipto Budy Handoyo
PRASI Vol. 21 No. 02 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v21i02.113068

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai aksiologis yang terkandung dalam Tari Gandhong dari Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek dalam perspektif filsafat seni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif interpretatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pelaku seni serta masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Gandhong mengandung nilai aksiologis yang meliputi nilai estetika, sosial, budaya, dan pendidikan. Nilai estetika tercermin dalam komposisi gerak tari dan keselarasan dengan iringan musik. Nilai sosial tampak pada fungsi tari sebagai sarana interaksi masyarakat. Nilai budaya terlihat dalam perannya sebagai media pelestarian tradisi lokal, sedangkan nilai pendidikan tercermin dalam proses pembelajaran tari yang menanamkan disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab. Dengan demikian, Tari Gandhong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai media pelestarian budaya serta pembentukan identitas masyarakat.
MAKNA FILOSOFIS TARI SEDULANG SETUDUNG SEBAGAI SISTEM SIMBOLIK KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BANYUASIN Sukma Juihesty; Cipto Budy Handoyo
PRASI Vol. 21 No. 02 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v21i02.113605

Abstract

Tari tradisional tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai representasi nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat pendukungnya. Salah satu tari tradisional yang memiliki nilai simbolik dan filosofis adalah Tari Sedulang Setudung dari Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna filosofis Tari Sedulang Setudung sebagai sistem simbolik kearifan lokal masyarakat Banyuasin melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui dokumentasi visual yang merepresentasikan pertunjukan tari, khususnya pada aspek gerak, busana, dan properti. Analisis data dilakukan dengan pendekatan interpretatif untuk menafsirkan elemen-elemen visual sebagai tanda-tanda budaya yang mengandung nilai filosofis dan kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak tari merepresentasikan nilai etika dan sosial masyarakat, busana mencerminkan identitas budaya dan nilai kesakralan, sedangkan properti berfungsi sebagai simbol tradisi dan nilai kehidupan masyarakat Banyuasin. Tari Sedulang Setudung tidak hanya dipahami sebagai pertunjukan estetis, tetapi juga sebagai sistem simbolik yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks budaya tradisional.