Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dampak lingkungan kerja toksik (toxic workplace) terhadap dua indikator utama keberhasilan organisasi, yaitu produktivitas kerja dan kesehatan mental karyawan. Fokus kajian ini meliputi identifikasi manifestasi budaya kerja destruktif, mekanisme terjadinya tekanan psikologis kronis, serta konsekuensi jangka panjangnya terhadap efisiensi operasional perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), di mana data sekunder dikumpulkan melalui sintesis sistematis terhadap berbagai literatur ilmiah, jurnal manajemen sumber daya manusia, dan laporan psikologi industri terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja toksik yang ditandai dengan kepemimpinan narsistik, komunikasi manipulatif, dan perundungan secara signifikan memicu fenomena presenteeism dan degradasi fokus kognitif, yang menghambat kreativitas serta menurunkan volume output kerja. Secara psikologis, paparan terus-menerus terhadap budaya toksik terbukti menjadi prediktor utama gangguan kecemasan, depresi ringan, dan burnout akut, yang sering kali bermanifestasi menjadi gangguan psikosomatik seperti insomnia. Implikasi dari kondisi ini bermuara pada tingginya angka absensi dan turnover intention yang merugikan stabilitas finansial organisasi. Kesimpulannya, penciptaan lingkungan kerja yang aman secara psikologis bukan sekadar tanggung jawab etis, melainkan strategi vital untuk menjaga resiliensi sumber daya manusia dan keberlanjutan daya saing perusahaan di era kompetisi global.