sihung sihung
Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Esensi Komunikasi Pendidikan sihung sihung
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 4 No 1 (2020): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan yang disebut pembangunan di Indonesia belum merata (sampai kepelosok), khususnya bidang jaringan komunikasi/mendukung pemanfaatan media. Masyarakat desa terutama usia Sekolah, belajar dengan sistem daring (memanfaat jaringan internet) mengalami kendala, ditambah dengan sarana yang (laptop dan telepon genggam) yang mahal harganya. Hal yang sangat dirasakan oleh oleh setiap unsur pendidik maupun peserta didik selama ini terutama masa pandemi sekarang ini bahkan masyarakat yang berdomisili diwilayah kota pun masih banyak kendala jaringan, apabila berada dipinggiran. Pada hal komunikasi jarak jauh satu-satunya cara untuk menyelesaikan atau menyiasati kondisi saat ini agar pendidikan/pembelajaran formal tetap berlangsung. Elektronik salah satu media pendidikan yang secara umum memperjelas informasi pendidikan secara umum-menyeluruh, sama dan jelas dari sumber yang resmi atau dipercaya dan dapat dipertanggung-jawabkan. Sehingga pemberi informasi pun adalah orang-orang yang dipilih atau ditentukan. Peserta didik terutama ditempat yang terkendala sistem atau jaringan komunikasi dan informasi (elektronik), memilih waktu yang tepat untuk mengakses dan media atau perangkat pendukung yang dipandang efektiv.
Pelaksanaan Upacara Tiwah di Desa Samba Danum Kecamatan Katingan Tengah Perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu Rinda Agusvina; Mujiyono Mujiyono; Sihung Sihung
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 9 No 1 (2025): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/satya-sastraharing.v9i1.1342

Abstract

Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana pelaksanaan upacara Tiwah. Berdasarkan fenomena di lapangan bahwa pelaksanaan upacara Tiwah pada masyarakat Hindu Kaharingan belum terkelola dengan baik, sarana dan prasarana serta proses pelaksanaannya belum tertata rapi sehingga diperlukan manajemen yang baik. Kajian yang digunakan penulis dalam penulisan jurnal ini adalah deskriptif kualitatif dimana penulis melakukan pengamatan secara empiris terhadap kondisi upacara Tiwah dan melakukan wawancara secara langsung. Selain itu penulis juga menggunakan sumber pustaka baik buku, jurnal maupun bahan referensi lainnya. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, pelaksanaan upacara Tiwah dilaksanakan dengan empat proses yaitu perencanaan upacara Tiwah, Pengorganisasian, Pelaksanaan/pengerahan, pengawasan. Kedua, terdapat tujuh nilai manajemen pendidikan agama Hindu, diantaranya lebih bertanggung jawab, lebih beretika, lebih estetis, lebih disiplin, lebih efektif dan efisien, lebih terorganisasi dan lebih material. Ketiga, terdapat dua implikasi terhadap pelaksanaan Upacara Tiwah yaitu implikasi positif dan implikasi negatif.
Tradisi Membuatan Sandung Pada Umat Hindu Kaharingan Dayak Ngaju Sihung Sihung; I Gusti Agung Dharmawan
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 10 No 1 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v10i1.4118

Abstract

Sandung is a distinctive structure in the Hindu Kaharingan tradition of the Dayak Ngaju community, serving as a repository for the bones of deceased family members following the tiwah ceremony. This tradition continues to exist today and reflects both cultural identity and religious belief. The purpose of this study is to describe the meaning, functions, and values embodied in the construction of sandung, while also examining how the tradition is maintained amidst social change. The research employed a qualitative descriptive method using both primary and secondary data sources. Primary data were obtained through in-depth interviews with six key informants and discussions with community members knowledgeable about the tradition, while secondary data were collected from documentation and related studies. Data collection involved observation, interviews, and documentation with customary leaders, community figures, and Hindu Kaharingan practitioners. The findings indicate that the construction of sandung requires specific skills, adherence to customary norms, and deep spiritual understanding. Beyond its role as a bone repository, sandung embodies profound social and religious meanings: it represents filial responsibility toward deceased parents, gratitude and respect for ancestors, and a medium for maintaining harmony between the living and the dead. The study concludes that the sandung tradition plays a vital role in strengthening the cultural identity of the Dayak Ngaju community, preserving the spiritual values of Hindu Kaharingan, and is believed to bring prosperity to surviving family members. Therefore, the continuity of this tradition requires collective support from society and younger generations to ensure its preservation.