Penugasan guru di daerah pedalaman dan rawan konflik di Papua menghadirkan tantangan unik, terutama ketika terjadi perubahan mendadak seperti relokasi paksa akibat situasi keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transisi psikososial yang dialami oleh guru-guru yang dipindahkan dari pedalaman ke kota, dengan menggunakan kerangka Bridges Transition Model. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan dari wawancara mendalam dengan empat guru yang terdampak dan satu kepala sekolah yang mengelola perubahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru secara jelas melewati tiga fase transisi. Fase pertama, Ending, Losing, Letting Go, ditandai oleh perasaan sedih, kehilangan, dan kekecewaan yang mendalam karena harus meninggalkan siswa dan rutinitas secara tiba-tiba. Fase kedua, The Neutral Zone, merupakan periode kebingungan, ketidakpastian peran, dan tantangan adaptasi terhadap lingkungan kerja serta budaya baru di kota. Fase ketiga, The New Beginning, ditandai dengan penerimaan bertahap, pembentukan rutinitas baru, dan penemuan identitas profesional yang baru, meskipun dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dukungan kepemimpinan yang empatik dari kepala sekolah dan solidaritas rekan sejawat menjadi faktor krusial dalam membantu guru menavigasi zona netral yang sulit. Kesimpulannya, Model Transisi Bridges terbukti menjadi alat analisis yang efektif untuk memahami dimensi psikologis dari manajemen perubahan, serta menekankan pentingnya dukungan manajerial yang terstruktur dalam memfasilitasi transisi guru di situasi krisis.